Potensiku Lejitkan Karirku 

Tidak perlu galau ketika karir merasa mentok, apalagi menyalahkan orang lain atau keadaan. Ternyata sumber keberhasilan kita ada pada diri kita sendiri, yaitu potensi genetik kita masing-masing. Potensi Genetik adalah anugerah tuhan yang diberikan kepada kita, yang sayangnya itu tidak kita sadari. 

Bicara masalah Potensiku Lejitkan Karirku, apa sih yang membuat Pak Andika mengangkat tema itu ?

Jadi yang menjadi pembahasan awal, kenapa kemudian potensi itu yang menjadi titik penting dalam kita melejitkan karir. Jadi sederhananya begini mas, kalau kita bicara tentang bagaimana kita mempersiapkan karir, seperti saya dulu. Saat berkarir dulu pernah mengalami ketika merasa di atas masih panjang, di bawah kita ada, disamping juga banyak gitu kan. Kemudian ketika terjadi satu hal yang istilahnya stagnan atau jalan ditempat gitu. Kita punya kecenderungannya melihatnya keluar, oh jangan-jangan karena si ini ni, karena si itu ni, karena bos saya begini ni, atau segala macemnya. Kemudian belakangan ini ketika saya belajar lebih lanjut, kemudian juga dipertemukan dengan beberapa pengetahuan yang saya ketahui belakangan itu adalah bahwa kata kuncinya adalah bukan pada apa yang ada di luar kita tapi sebenarnya semuanya kembali kepada kita.

Jadi kalau yang saya pelajari ada rumusnya, ( Event + Response = Outcome ). Jadi Event itu adalah kejadian apapun disekitar kita, kemudian respon adalah yang kita berikan, dan kemudian Outcome adalah  hasil. Jadi dalam konteks karir kita, ketika kita kemudian ada situasi dimana Outcome kita atau hasil kita merasa mentok, nah itukan hasil ya. Maka kemudian akan ada event, eventnya boleh jadi betul, bahwa perusahaan sedang menurun, atau mungkin memang betul eventnya adalah ada rekan kita atau banyak rekrutan baru yang tiba-tiba nangkring di atas kita, nah itu kan eventnya ya. Tapi kemudian kata kuncinya bukan pada event, karena hasil itukan bukan pada event tapi kemudian pada respon kita. Kalau kemudian kita merespon dengan putus asa, dengan kehilangan semangat, kerjanya ogah-ogahan. Jadi kalau kita memberikan respon yang tidak tepat, makanya kemudian hasilnya juga nanti akan gak tepat seperti yang kita harapkan. Sementara disisi lain ketika kita berharap dengan kejadian yang sama, kemudian ternyata hasilnya berbeda, maka kita harus memberikan respon yang tepat. Kalau berkaitan dengan respon yang tepat, maka salah satu pondasi dasar dari respon yang tepat ini adalah bagaimana kita melihat kedalam dulu sebelum melihat keluar.

Intinya begini, orang cenderung bilang misalnya contoh begini, “oh ini perusahaan stagnan karena ekonomi melemah, misalnya begitu ya” Tapi bukankah di tengah kondisi ekonomi yang melemah ini ada juga perusahaan yang growth, yang bahkan dia bisa berkembang. Berarti kondisi ekonomi yang lemah ini tidak dirasakan oleh semuanya dong ya gitu. Sekarang kembali lagi, bukan eventnya yang kemudian menjadi kunci utama terhadap terjadinya segala situasi atau hasil ini, tapi tentang bagaimana kemudian respon kita.

Bagaimana kemudian kita memberikan respon yang tepat. Dan respon yang tepat adalah bagaimana kita melihat ke dalam diri kita terlebih dahulu. Karena kadang-kadang secara tanpa kita sadari, kita dalam tanda kutip diseragamkan oleh situasi, contoh misalnya kita mengerjakan sesuatu hal agak lelet nih, tiba-tiba bos atau teman kita nyolek “ woi lama amat sih, gua aja ngerjain cuma 5 menit masa 10 menit belum kelar juga” gitu kan misalnya, nah kita mengalami situasi yang tanpa kita sadari kemudian mengeneralisnya dengan orang-orang yang lain. Sehingga kemudian cenderungnya kita melihat ke orang lain, kita melihat keluar, dan bukannya melihat kedalam gitu. Padahal dalam banyak situasi juga seperti contoh sederhana yang lagi viral dua hari terakhir ini adalah “Rio Harianto”. Saya kenal dengan Rio dan saya kenal dengan orang tuanya, tapi kalau perandaian nya begini, kalau dulu Rio kecil, yang dari kecil boleh jadi sudah kelihatan suka kebut-kebutan, kemudian kalo yang dilihat dari faktor luar, pasti yang dipikirkan “ hobi banget sih kebut-kebutan, mau jadi apa?” nah sederhananya begitu la ya. Sebenarnya kalau dilihat dari dalam, pasti “ Dia kok suka ya bawa mobil kencang, atau suka segala macem” tinggal di salurkan aja di jalur yang tepat. Pertama tahu dulu kan, misalnya orang tua Rio jadi berfikir “oh ternyata anak saya ini suka bawa mobilnya kencang nih”, atau suka sepedaan sambil kebut-kebutan, balapan sama temannya, kira-kira begitu. Maka kemudian bukan digeneralisir, bukan dibanding-bandingkan dengan temannya yang lain, namun justru malah dilihat dari dalam, bahwa oke, dia punya karakter seperti ini, dia punya kecenderungan seperti ini, dan kemudian diarahkanlah kejalan yang benar. Dan ketika jalan yang benar itu namanya adalah Formula1, ga akan ada masalah sama sekali. Justru akan jadi masalah ketika sama-sama kebutan tapi di jalan, nah itu akan menjadi masalah yang akan sangat bahaya. Maka hal yang sama nantinya akan kembali kepada diri kita sendiri.

Intinya adalah bahwa lihat dulu kedalam, jangan kemudian terlalu sibuk melihat keluar, apalagi jika kita bandingkan dengan rekan-rekan kita yang lain. Maka kalau kunci dari keberhasilan atau lejitan, kenapa saya membahas tentang karir yang melejit, karena kalau meningkat itukan dalam tanda kutip standart lah ya, setiap tahun kalau kita masih bertahan di perusahaan yang sama, maka biasanya akan ada kecenderungan untuk meningkat. Tapi ketika melejit, ini adalah situasi dimana peningkatan tersebut signifikan. Maka kemudian saya membahasakannya adalah kunci untuk kita melejitkan karir kita adalah dengan mengenali Potensi Genetik kita terlebih dahulu, karena memang kalau dalam konsep STIFIn bahwa manusia itu terbagi menjadi 5 tipe dasar. 

Pandangan Pak Andika tentang potensi ini apakah selalu identik dengan potensi genetik atau bagaimana pak? 

Jadi pada prinsipnya memang kalau kita bicara Potensi Genetik maka akan ada banyak sekali potensi dimana kalau menurut STIFIn memang semuanya akan bermuara kepada Potensi Genetik. Kenapa kita menyebutnya sebagai Potensi Genetik? karena Potensi Genetik memang bawaan dari lahir, yang anugerah dari tuhan yang memang diberikan kepada seseorang. Potensi Genetik akan terasah oleh lingkungan, sebenarnya kalau dalam bahasa bangunannya itu sudah ada pondasinya, tinggal kita munculkan agar lebih kuat lagi atau diletakkan sebagai awak pembangunan potensi. Tapi prinsipnya adalah tidak semata hanya sekedar kertas kosong yang kemudian karena faktor pergaulan kita, keluarga, pendidikan dan sebagainya. Kemudian kita terbentuk kepada satu potensi. Jadi filosofi dasarnya begitu.

Kalau tadi STIFIn meyakini bahwa ada memang potensi yang non genetik, tapi kita disini fokus pada yang Potensi Genetik. Karena kalau Potensi Genetik selamanya tidak akan berubah, kemudian dari riset yang kami lakukan, dari pengalaman yang kami temui, memang pada akhirnya banyak orang yang kami temui setelah dia mengenali dan kemudian menggembleng diri sesuai dengan potensi genetiknya maka dia merasakan yang pertama paling tidak walaupun kerjanya sama minimal kemudian dia lebih nyaman. Kemudian kalau misalkan, dia memungkinkan, untuk menyesuaikan dengan gaya pekerjaan yang sesuai dengan Potensi Genetiknya. Selain lebih nyaman, dia juga merasa lebih mudah dan hasilnya juga akan sangat maksimal.

Jadi contoh gampangnya begini ya, misalnya kalau saya bawaan dari lahir nya adalah bertangan kiri atau kidal, maka kemudian karena mungkin faktor keluarga, faktor pendidikan kemudian “pake tangan kanan deh” misalnya. Bisa gak tangan kanan saya digunakan? pasti bisa dengan seiring berjalannya waktu pasti bisa saya gunakan. Tapi kemudian ketika kita harus mengasah tangan kiri dengan tangan kanan kita, tentunya saya akan lebih mudah untuk menulis dengan tangan kiri dibanding tangan kanan. Misalnya tangan kanan dan tangan kiri diberi porsi latihan, latihan menulis indah selama 2 jam/ hari maka kita bisa sama-sama tahu dan perkirakan bahwa tangan kiri akan lebih besar peluangnya untuk lebih mudah, lebih nyaman, dan lebih bagus  hasilnya. Itu Filosofi dasarnya begitu.

Kalau bicara masalah potensi genetiknya, ini meliputi aspek yang bagaimana sejatinya pak?

Jadi Potensi Genetik itu datangnya dari belahan otak kita yang dominan, jadi pada semua orang punya belahan otak yang sama. Tapi Tuhan sudah anugerahkan bahwa setiap manusia itu belahan otak yang dominan atau yang sering digunakannya berbeda-beda. Maka kemudian STIFIn berangkatnya dari “meyakininya” ; beda belahan otak dominan, maka dia akan berbeda karakternya, karena beda karakternya maka otomatis dia akan berbeda potensi genetiknya. Karena otak ini adalah pengendali utama dari apa yang sudah dilakukan, sehingga dari sinilah ketika seseorang punya kemampuan lebih dari yang lain, atau punya ketertarikan yang lebih pada suatu hal. Maka ini datangnya dari potensi genetik. 

Tadi Bapak ada mengatakan prinsip produktivitas STIFIn, nah kira-kira apakah harus selalu melulu pada prinsip produktivitas yang berhubungan dengan kerja dan kerja atau bagaimana ya pak?

Kalau dari STIFIn produktivitas itu berkaitannya dengan prestasi ya, tapi kalau dalam bahasa akademisnya itu produktif ya. Tapi kalau dalam bahasa sehari-hari itu adalah prestasi, seseorang yang menghasilkan prestasi yang baik tentu tipe seseorang yang produktivitasnya tinggi, singkat ceritanya begitu.

Kalau dalam konteks STIFIn, rumus produktivitas pribadi itu bergantung pada 3 hal. Pertama adalah Ability to the work, kemampuan seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan. Tadi sudah sempat kita bahas tentang 5 Tipe Mesin Kecerdasan, jadi kalau menurut STIFIn manusia itu terbagi menjadi 5 tipe  yaitu :

  • Sensing yang dia lebih dominan kepada panca indranya, kemudian
  • Thinking yang lebih kuat kepada aspek logikanya, kemudian
  • Intuiting yang dia kuat pada konsep ide dan gagasan,
  • Feeling yang lebih dominan kepada perasaan dan
  • Insting yang dominan kepada naluri,

Nah semuanya nanti akan bermuara kepada belahan otak yang dominan. Sensing itu limbik kiri, Thinking itu neokorteks kiri, Intuiting itu neokorteks kanan, Feeling itu limbik kanan, dan Insting itu hindbrain.

Produktivitas Berdasarkan STIFIn

Kemudian kalau dari 5 tipe ini di sambungkan dengan Produktivitas ala STIFIn seperti yang pertama tadi sudah kita bahas. Ability to the work, maka masing-masing tipe ini punya kemampuan yang berbeda ketika sedang melakukan sesuatu pekerjaan. Contoh,

  • Kalau tipe Sensing Attitude the worknya, pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, detail, kerja lapangan.
  • Sebenarnya kalau tipe Thinking dia punya kemampuan lebih, ketertarikan lebih, untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan analisa yang dia perlu berfikir, perlu menstrukturkan, dan sebagainya.
  • Kalau tipe Intuiting, Ability to the worknya lebih pada hal yang sifatnya konsep, ide, gagasan, kreativitas, yang kemudian bicara tentang jangka panjang, planning atau perencanaan itu pada kekuatannya Intuiting.
  • Sementara kalau tipe Feeling Ability to the worknya lebih kepada aspek-aspek yang berhubungan dengan perasaan, maka dia mempunyai banyak kemampuan dari pada tipe yang lain pada bagian komunikasi dengan orang. Jadi ketika dia berinteraksi dengan orang orang lain, kemudian diskusi atau segala macamnya, ini feeling lebih nyaman, suasananya jadi lebih hangat, lebih sejuk, kira-kira begitu.
  • Terakhir tipe Insting, Ability to the worknya dominan pada aspek service atau layanan atau hal-hal yang membutuhkan respon eksisitas tinggi.

Jadi kembali kepada prinsip pertama dari produktivitas “Ability to the work” maka setiap orang punya kemampuan berbeda terhadap satu jobdesk atau posisi tertentu. Paling gampang katakanlah begini, penyiar misalnya. Maka kalau kita mencari penyiar yang dia mampu menghangatkan suasana, yang orangnya rame dan sebagainya, kasih tu ke tipe Feeling. Sementara kalau kita perlu penyiar yang untuk memandu sebuah acara yang memang membutuhkan analisa yang tajam dan sebagainya kasih ke tipe Thinking. Jadi Ability to the worknya berbeda beda, sehingga kemudian ini adalah prinsip pertama dari produktivitas.

Level Of Effort

Bagaimana anda, kita semua bisa melejitkan karir kita? maka kita kenali potensi genetik kita. Kita punya kemampuan Ability to the work dibagian mana, yang kemudian kalau misalnya ada pertanyaan “kayaknya saya salah deh” maka kemudian ada aspek yang kedua dari produktifitas. Yang kedua adalah Level Of Effort, jadi yang dikatakan level of effort itu misalnya Penyiar, mungkin ada satu orang yang pernah ikut tes STIFIn dan bilang, “ ini penyiar saya ini pernah 5 kali ganti posisi, pernah Sensing, pernah Thinking, pernah Intuiting, pernah Feeling dan pernah Insting. Dan lima-limanya heboh semua” Kalau dari kita STIFIn bicara tentang Level Of Effort, hebohnya seorang Feeling itu heboh ibarat kata dia sambil main-main aja udah heboh. Sementara kalau tipe lain, Thinking misalnya hebohnya itu dia harus mikir banget, dia harus mengupayakan banget, misal dia perlu belajar dulu, perlu latihan dulu, dan segala macamnya baru kemudian beliau bisa heboh, nah ini yang kita sebut sebagai Level Of Effort.

Support Given

Dan yang ketiga adalah Support Given, dukungan yang diberikan. Jadi kalau level of effort tadi bicara tentang tingkat upaya yang dikeluarkan untuk mengerjakan suatu jenis aktivitas gitu ya. Yang ketiga adalah  Support Given, supaya masing-masing tipe ini bisa optimal dalam berkarya atau bekerja, maka supportnya pun berbeda-beda.

  • Jadi kalau tipe Sensing misalnya, karena dia fokus pada panca indera maka dia fokus pada hal-hal yang konkret, misalnya fasilitas atau reward-reward yang konkret yang diberikan. Misalnya “ini saya gak bisa siaran ni kalau speakernya masih aja gini, saya gabisa nih”, nah itu Sensing.
  • Sementara kalau Thinking dia perlu diberi otoritas, jadi diberi kewenangan “saya diberikan wewenang untuk mengatur siapa team atau partner saya” gitu kan.
  • Kemudian kalau Intuiting dia diberikan keluasaan atau ruang untuk dia berkreasi.
  • Kemudian kalau Feeling dia diberikan suasana atau partner yang hangat, yang suasana kerjaya nyaman, nah kira-kira begitu. Kemudian kalau loadnya sama, targetnya sama, terus kemudian temannya gak nyaman dia gak akan klop.
  • Kemudian kalau Insting dia berperan, punya peranan di sebuah aktivitas. 
Yang perlu melihat ini, secara pengambil keputusan, ini siapa saja kira-kira ya pak? 

Berarti kalau siapa saja itu dua orang ya, pertama yang paling penting adalah kita sendiri. Karena kalau kita sendiri gak tahu ability to the work, level of effort kita bagaimana dan kemudian support yang kita perlukan itu seperti apa? ya kalau kita sendiri aja gak tahu gimana orang lain bisa ngasih? jadi makanya kemudian berfokuslah kepada mengenali diri sendiri terlebih dahulu, kita tahu potensi genetiknya apa, tipenya apa, dan kemudian dari situ nanti cara mengasahnya pun akan berbeda. Dari STIFIn banyak yang sudah kami pelajari bagaimana masing-masing tipe ini mengasah dirinya.

Bahkan saya intermezo sedikit, bahwa cara 5 tipe ini untuk refresh itu berbeda-beda. Dan kalau kita gak tau cara refreshnya bisa berantem. Contoh gampangnya begini,

  • Sensing dia bisa refresh setelah dia berkeringat, misal setelah beres rumah, cuci mobil dan lain sebagainya. Sensing ini tipe refreshnya setelah dia berkeringat.
  • Kemudian kalau Thinking dia beda lagi, dengan jalan-jalan go green, jalan-jalan ke daerah sawah, hutan, kira kira begitu. Atau dia pelihara binatang, jadi dia punya peliharaan ya.
  • Jadi tipe Thinking dia akan refresh setelah dia beraktifitas dengan ngurusin binatang peliharaannya. Kemudian kalau tipe Intuiting, dia refresh kalau tidak tidur ya nonton film.
  • Kemudian kalau Feeling dia akan lebih segar kalau kemudian dia ngobrol, atau bercanda sama teman-temannya.
  • Sementara kalau tipe Insting itu silaturahim, kenapa secara spesifik dibilang silaturahmi karena begini, ada orang yang dia datang berkunjung gak dalam rangka apapun hanya untuk mendekatkan hubungan, makanya disebut silaturahmi.

Nah jadi kalau kita gak tau refreshnya ini bisa buat berantem kan ya. Jadi misalnya suami istri, satu Sensing dan satu Intuiting, Suami Sensing, Istrinya Intuiting. Istrinya lagi suntuk banget, tau kalo lagi suntuk ah tidur deh, suaminya ngatain “kamu ngapain tidur ? males amat” gitu kan dan sebaliknya juga. Makanya sangat penting bagi kita untuk mengetahui potensi genetik kita sendiri, sehingga kalau orang lain gak tahu maka tugas kita adalah menyampaikan  itu dengan cara yang baik. 

Jadi kalau kita di kantor, maka kita harus tahu dulu potensi genetik kita dan segala macamnya, kalau spesifikasi kita dikantor bicara prestasi, maka cara menyampaikan yang paling baik bukan dengan kata-kata tapi dengan karya nyata. Jadi dibanding kita ngomong panjang lebar, “saya ini kan bagusnya disini” “ bagusnya di bidang ini” dan segala macamnya. Jadi buktiin aja, just do it “pak.. buk.. saya kemarin sekian bulan ngerjain yang ini, sesuai perintah ibu, tapi yang ini maaf ni saya lancang saya kerjain yang ini, dan yang ini menurut saya paling ini “begitulah misalnya. Kembali lagi kalau kita sudah menunjukkan produktivitasnya dengan prestasi konkret, ya management manapun pasti akan berpikir mas, karena kita bicara produktivitas tentu akan menguntungkan perusahaan kalau dalam bentuk produktivitas. Maka kemudian win win lah, dari pihak perusahaan mendapatkan produktivitas yang tinggi, kita pun minimal lebih nyaman disitu.

Jadi kalau misalnya gini, gajinya maaf cakap kecil, tapi kalau kita nyaman kan bisa jadi pertimbangan. Jadi paling tidak kita sudah nyaman dulu, bahwa kemudian nanti akan ada prestasi tambahan, promosi atau di mungkin di geser posisi yang tepat dengan kita. Maka itu adalah next stepnya dulu, paling tidak pondasinya kita nyaman.  

Jadi begini pak, saya sudah tes STIFIn, tapi kok hasilnya beda sekali ya dengan minat dan kebiasaan saya selama ini?

Pertanyaan dari pak Andre. Jadi ada beberapa kemungkinan, yang pertama adalah apakah pak andre sudah berdiskusi lebih mendalam dengan Promotor STIFIn? karena dari beberapa pengalaman yang sudah saya alami, kadang-kadang promotor STIFIn ini tidak menjelaskan secara mendalam, mungkin karena mendesaknya waktu, mungkin saat di tes tidak ada yang nanya, sehingga kemudian tidak terjadi diskusi. Maka sarannya yang pertama adalah coba di gali promotor yang sudah tes Pak Andre, kemudian ditanya lagi kok berbeda ya? nah ini kan tidak disebutkan secara detail hasilnya apa.

Kemudian yang kedua kalau kita bicara hasil tes STIFIn, kita bicara tentang potensi genetik yang diberikan oleh Tuhan sejak kita lahir. Sementara dalam perjalanan hidup kita, misalnya kita tes STIFIn di usia 20, tuhan sudah kasih anugerah ini sejak kita nol hari gitu ya. Begitu lahir kita sudah dikasih ini, sampai dengan usia 20 tahun ini ada faktor keluarga, faktor pendidikan, faktor lingkungan, semua hal yang kemudian membentuk kita. Sehingga sangat memungungkinkan terjadinya faktor lingkungan ini lebih dominan karena kita lebih nyaman melakukan hal-hal yang diluar potensi atau kebiasaan kita. 

Jadi sebenarnya ini akan merujuk pada rumusan fenotip = genetik + lingkungan, fenotip adalah kondisi kita hari ini, sedangkan genetik adalah bawaan dari lahir. Salah satunya adalah Mesin Kecerdasan atau tipe STIFIn seseorang, kemudian lingkungan itu semua adalah di luar dari diri kita, mulai dari keluarga, pendidikan dan sebagainya. Dimana kalau fenotip itu 100%, maka genetik hanya 20%, lingkungan ini yang dominan 80%. Kenapa? karena genetik ini tidak pernah berubah, maka ketika ada faktor lingkungan yang dia boleh jadi bertolak belakang berbeda 180% dengan genetik pun tetap nanti yang akan kelihatan adalah faktor lingkungannya. Efeknya adalah kita boleh jadi dalam tanda kutip gak nyaman, tidak maksimal dan sebagainya. Beda kalau kemudian penggemblengan kita, lingkungan kita itu berdasarkan dari aspek genetik kita yang 20% itu. Justru yang 20% itu yang menentukan faktor besarnya. 

Untuk pembentukan karakter sendiri apakah memang berdasarkan potensi atau justru lingkungan pak yang mempengaruhi?

Pertanyaan dari Lusi. 2 hal ini penting, sebagaimana rumus yang tadi kita bahas. Jadi kalau dalam konteks pembentukan karakter, maka dua-duanya penting. Kita kenali dulu potensi genetiknya, baru kemudian kita carikan lingkungan yang tepat untuk mengasah potensi genetik tersebut, jadi dua-duanya berperan.

Kalau kemudian mau dipertentangkan pasti yang menang adalah aspek lingkungan karena dia 80% ya, 80% dibanding 20% empat kali lipat pasti akan menang. Cuma hasil akhirnya akan terjadi ketidak nyamanan, contoh kecilnya saja yang beberapa kali yang pernah kami temukan. Pernah ada seseorang yang kemudian dia ngambil kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia, cuma pada akhirnya setelah dia lulus, ijazahnya dikasih ke orang tuanya dan dia bilang “saya mau melakukan hal yang lain” nah ini yang disebut salah satu ketidak nyamanan. Maka kalau kembali kepada kuncinya, kenali potensi genetiknya baru kemudian lingkungan di gembleng secara maksimal. Maka inilah yang disebut sebagai karakter sejati dari seseorang. 

Dari penjelasan pak andika detail sekali bahwa kita perlu menggali potensi kita. Nah peran HRD dalam masalah ini dimana pak? apakah hanya sebagai orang atau sebuah wadah untuk mengkotak-kotakkan sesuai dengan potensi, atau bagaimana pak?

Jadi sebenarnya ini nyambung dengan apa yang tadi ditanyakan oleh mas derry, nah tadi kan baru satu, yaitu diri kita sendiri. Yang kedua adalah memang team H.R, yang dia perlu tahu tentang karakter dari team yang dia kelola. Sehingga kalau nyambung ke pertanyaan tadi, peran H.R tentu saja dia perlu mengenali itu dan kemudian meletakkannya mind on brain place. Kali ini cuma ada satu aspek lagi yang perlu di pertimbangkan tidaknya.

Kalau di STIFIn H.R itu ada 4 aspek ya, jadi kalau mau menempatkan orang ada cograte, ada fungsional, kompetensi dan mesin kecerdasan. Karena kembali lagi, bahwa kalau kita tempatkan orang sesuai dengan potensinya maka dia punya peluang untuk menghasilkan lejitan produktivitas. Dimana ketika terjadi peningkatan prestasi yang signifikan tentunya akan berdampak kepada kedua belah pihak, si orangnya yang bersangkutan sendiri juga nyaman, perusahaan juga mendapatkan keuntungan dari situ.

Sehingga kembali lagi, peran H.R tidak ada istilah mengkotak-kotakkan, sebenarnya lebih tepat jika bukan mengkotak-kotakkan, tapi kemudian mengenali dan meletakkan dijalur yang tepat. Karena kesannya kalau di kotak-kotakkan itu kayaknya seperti terbatasi, kesan yang saya tangkap istilah mengkotak-kotakkan itu terlalu identik dengan itu tadi, menghukum orang pada satu bagian.

Perlu saya luruskan bahwa sebagaimana yang tadi saya sampaikan, untuk profesi atau jabatan tertentu atau posisi tertentu itu hanya untuk satu tipe. Bisa juga untuk tipe yang lain, tapi gayanya akan berbeda. Sebagaimana saya contohkan tentang penyiar itu tadi, kalau kita nyari penyiar yang memang acaranya membutuhkan informasi yang mendalam, kaya misalnya level introgasi misalnya, taruk penyiar yang Thinking, kira-kira begitu. Jadi semuanya memungkinkan, hanya kemudian disesuaikan dengan kebutuhan dari perusahaan seperti apa, output yang dihasilkan seperti apa, maka disitulah kita menempatkan orang yang tepat disitu.

Dan tentunya kembali lagi, ketika kita berbicara tentang potensi genetik, maka kita bicara tentang jangka panjang. Jadi kalau kita bicara tentang jangka pendek tentu kompetensi ya, kita cari penyiar yang heboh, itu dalam konteks kompetensi. Tapi kalau kita bicara tentang planning jangka panjang, kita nanti mau mempersiapkan begini-begini dan segala macam, maka masukkan potensi genetik sebagai salah satu pertimbangan. Karena itu nanti akan lebih memberikan akurasi yang lebih tepat kepada analisa yang dilakukan oleh team H.R. 

Tapi apakah mungkin dari potensi genetik ini ada seseorang yang mungkin bisa dikatakan mampu semuanya, bahkan dalam keadaan apapun tetap stabil gitu. Dari Sensingnya dapat, Thinking, Intuiting, Feeling dan Instingnya?

Kalau ditanya mampu atau tidak jawabannya mampu. Hanya saja risetnya menyatakan ada orang yang mampu seperti itu tapi hanya 3% dari seluruh populasi. Walaupun dia sudah all out effortnya akan bisa, tapi hanya 3%. Jadi ibaratnya kalau dari 5 Milyar manusia manusia didunia ini, hanya ada 3% orang yang mampu melakukan hal tersebut. Dan tentu saja ibaratnya begini ya, kita mengasah satu kemampuan itu saja perlu effort, perlu waktu, perlu tenaga, begitu la contohnya. Kalau kita mengasah lebih dari satu, dua misalnya, berartikan double, perlu tiga berarti triple, dan seterusnya. Ibaratnya suhu pembinaannya itu, penggemblengannya akan sanngat panas, sebenarnta begitu. Makanya kemudian tidak semua orang mampu, walaupun tetap ada yang mampu tapi hanya 3%. 

Walaupun dipaksakan?

Cenderungnya kemudian yang kedua, kalau kita gak masuk ke yang 3% ini maka kemudian dia akan istilahnya mesin mobil, yang diinjak gasnya kuat-kuat, maksimalkan, maka kemungkinannya akan ada dua. Pertama mampu atau mobilnya malah meledak mesinnya, kemungkinannya hanya ada dua itu. Maka kemudian kalau dari STIFIn menyarankan main aman saja, kita ambil yang jalannya orang 97% yaitu sesuai dengan apa yang menjadi potensi genetiknya. Dari pada kita memaksakan untuk gembleng orang 3%. Karena risetnya hanya 3% yang berhasil, inikan angka yang cukup kecil ya, dan bisa jadi hanya satu dari sekian banyak angkatan di perusahaan boleh jadi hanya ada satu atau dua orang. Sementara yang lainnya lebih banyak yang jebol, gitu kan sayang. Padahal dia punya potensi jika di tempatkan di bagian yang tepat dan difokuskan, tapi karena kita berharap terlalu banyak justru pada akhirnya akan mental.  

Baca juga :

Nah ini kan kita sudah lepas bicara masalah potensi, udah kita kenali how to manage mereka. Nah sampailah kita pada titik terus ingin mendapatkan yang terbaik dengan cara mengasah potensi genetik. Nah itu caranya bagaimana pak?

Jadi kalau kita mengasah potensi genetik tentunya kan ada  3 aspek sederhana.

  • Yang pertama adalah kita kenali lebih dulu, karena kalau kita belum tau potensi genetik nya apanya yang mau diasah? kan begitu.
  • Kemudian yang kedua cara mengasahnya ini pada prinsipnya adalah menyesuaikan dengan pola penggemblengan yang ada pada masing-masing potensi genetik. Seperti tadi saya jelaskan, Sensing membutuhkan sesuatu yang konkret. Kemudian thinking dia membutuhkan otoritas, Intuiting membutuhkan keluasaan, Feeling membutuhkan harmoni atau suasana yang hangat, dan Insting membutuhkan peran disitu. Maka cara mengasahnya yang kedua ini adalah kita berikan istilahnya atmosfer atau lingkungan yang kondusif bagi dia.
  • Kemudian yang ketiga ini adalah kita menggembleng diri sesuai karakter dasar kita. Jadi kalau Sensing yang dilatih adalah ketelitiannya, kalau Thinking logicnya, kalau Intuiting ide atau kreativitasnya atau konsepnya, kalau feeling asahlah hubungan dengan orang-orang disekitar anda, dan kalau Insting asahlah kemampuan anda untuk berkontribusi dan kemampuan anda untuk berperan dalam setiap posisi yang anda miliki. 
Mungkin masih ada yang bingung, ini STIFIn itu apa dan bagaimana? mungkin ada website atau apa agar publik bisa lebih mengenal STIFIn atau bagaimana?

Jadi bisa dibuka di tesstifin.com kemudian dari situ nanti akan ada informasi dengan STIFIn itu sendiri, dan juga informasi tentang promotor-promotor STIFIn yang ada di seluruh Indonesia, Anda bisa cari promotor di kota anda dan lakukan booking untuk janji Tes STIFIn dengan promotor yang anda pilih.

Kalau tentang lembaga, STIFIn Institute itu sendiri boleh jadi seperti sudah cukup familiar dengan tes STIFIn. Yang bagaimana kemudian salah satunya adalah kita menggunakan scan sidik jari. Tapi kemudian kalau di STIFIn Institute kami tidak secara langsung berkaitan dengan Tes STIFIn nya, tapi kemudian setelah tes STIFIn justru apa yang perlu dilakukan. Maka kemudian kami ada konsultan H.R, konsultan sekolah juga, kemudian ada juga program untuk parenting, untuk anak SMA dan SMK juga. Yang intinya adalah bagaimana menggunakan potensi genetik kita untuk mendapatkan prestasi yang terbaik.  

Sumber Dari : Acara Smart FM Bersama Bapak Andhika Harya dengan judul Potensiku Lejitkan Karirku

 

 

Categories

tes-stifin