HomeJurnalMetode STIFIn Dalam Meningkatkan Kemampuan Menghafal Al-Qur’an

Metode STIFIn Dalam Meningkatkan Kemampuan Menghafal Al-Qur’an

Metode STIFIn Dalam Meningkatkan Kemampuan Menghafal Al-Qur’an

Al-Qur’an sebagai salah satu pedoman yang mewartakan prinsip dan doktrin ajaran Islam mempunyai apa yang disebut dengan kepastian teks (qat’i al-wurud). Dalam proses menjaga kepastian teks tersebut, terdapat peran serta manusia yang salah satu caranya dengan menghafalkan al-Qur’an. Namun, menghafal al-Qur’an tidak semudah yang dibayangkan sebagaimana menghafal suatu lagu atau syair. Problem yang dihadapi oleh seseorang yang sedang menghafal al-Qur’an memang banyak dan bermacam-macam. Mulai dari faktor minat, bakat, lingkungan, waktu, sampai pada metode menghafal itu sendiri. Metode STIFIn sebagai salah satu metode menghafal al-Qur’an dalam implementasinya menawarkan solusi menghafal cepat yang dilakukan mulai sebelum proses menghafal.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam implementasinya, dengan cara memetakan penghafal berbasis pada teori hereditas, sehingga berimplikasi pada rekayasa pembelajaran yang berbeda antar masing-masing potensi. Demikian pula dengan tes kemampuan hafalan guna mengetahui kekuatan dan kemampuan masing-masing dalam menghafal al-Qur’an. Hal tersebut kemudian diikuti dengan klasifikasi penghafal al-Qur’an berdasarkan teori sirkulasi STIFIn ketika melaksanakan kegiatan setoran kepada pembina, sehingga dalam pelaksanaan metode STIFIn sangat membantu santri untuk bisa menghafal al-Qur’an dengan lebih mudah dan nyaman, karena menyesuaikan metode dengan potensi genetik masing-masing.

Di Pondok Pesantren Nurul Jadid khususnya wilayah Al-Mawaddah Paiton Probolinggo, kini telah menjadi salah satu tempat cabang Rumah Al-Qur’an STIFIn (RQS), dimana dalam proses menghafalnya menggunakan suatu metode berdasarkan konsep STIFIn yang berkaitan dengan sistem kinerja otak atau yang dikatakan dengan mesin kecerdasan masing-masing anak. Dibukanya rumah Qur’an STIFIn yang memiliki target capaian 8 bulan ini dilatar belakangi oleh keinginan pemangku wilayah al-Mawaddah untuk memberikan wadah bagi santri pondok pesantren Nurul Jadid maupun luar pondok yang ingin menghafalkan al-Qur’an secara fokus, tanpa ada kegiatan sambilan di lembaga lainnya dengan menggunakan metode STIFIn. Metode STIFIn ini merupakan penerapan dari konsep STIFIn yang mengkompilasi dari teori-teori psikologi, neuroscience, dan ilmu sumberdaya manusia. Prinsip besarnya mengacu kepada konsep kecerdasan tunggal dari Carl Gustaav Jung.

Baca Juga : 

Cara mengetahui mesin kecerdasan ini dengan STIFIn Fingerprint, sebuah tes yang dilakukan dengan cara men-scan kesepuluh ujung jari untuk mendapatkan sidik jari dengan alat fingerprint. Sidik jari yang membawa informasi tentang komposisi susunan syaraf tersebut kemudian dianalisa dan dihubungkan dengan belahan otak tertentu yang dominan berperan sebagai sistem operasi dan sekaligus menjadi mesin kecerdasan seseorang. Menurut konsep STIFIn, bukan belahan otak yang memiliki kapasitas paling besar yang dianggap dominan, melainkan yang kerap digunakan, paling aktif berfungsi, paling otomatis digunakan, dan menjadi bawah sadar manusia. Konsep STIFIn menyebutnya sebagai sistem operasi otak yang terdiri dari kecerdasan sensing, thinking, intuiting, feeling, dan insting. Mengingat, urgensi sistem operasi otak sebagaimana dijelaskan di atas, maka pembahasan tentang implementasi metode STIFIn yang berbasis sistem operasi otak dalam pembelajaran dan menghafal al-Qur’an menjadi cukup penting untuk dibahas sebagai upaya diseminasi pengetahuan tentang metode menghafal al-Qur’an dengan cepat.

Kata Kunci: Metode STIFIn; Menghafal Al-Qur’an; Genetik.

Isi lengkap Jurnalnya bisa anda baca dan download di bawah ini.

Beri Ulasan

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru