HomeKeluargaPerbedaan Posisi 69 Dalam Kehidupan

Perbedaan Posisi 69 Dalam Kehidupan

Dalam dunia kasur, perbedaan posisi 69 saat bercinta terletak pada posisi kepala. Posisi 69 dalam bercinta adalah posisi yang paling ADIL. Karena kedua pasangan sama-sama mengeluarkan effort kerja dan secara bersama-sama menikmati hasilnya. Jadi kerja sambil menikmati hasil. Ini enak dan nikmat banget. Keduanya saling menikmati dan saling memuaskan satu sama lain.

Perbedaan posisi 69 dalam sebuah penilaian, angka 9 adalah point yang sangat baik. Semua orang mendambakan mendapat nilai 9. Sedangkan angka 6 adalah yang kurang baik, tidak memuaskan. Nilai 6 adalah nilai yang di hindari. Kalau ibu saya suka bilang, nilai 6 diraport sekolah adalah nilai lepas-lepas makan. Karena ibu pedagang, jadi dia mengatakan, sama seperti orang berdagang, ketika dapat untung, untungnya cuma bisa untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja, lepas-lepas makan, keuntungannya gak bisa beli emas dan berlian.

Dalam menjalin hubungan sosial dengan orang lain, berinteraksi dengan orang lain, yang saling membutuhkan pengertian antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan posisi 69 adalah tentang perbedaan persepsi atau perbedaan sudut pandang. Ketika kita merasa benar, maka belum tentu orang lain salah. Ketika kita telah berbuat kebaikan, belum tentu orang lain menganggap itu adalah sebuah kebaikan untuk dirinya.

Memahami Perbedaan Posisi 69

Sehingga dalam menjalin hubungan dan berinteraksi dengan orang lain. Kita musti mengerti perbedaan posisi 69 ini. Apa maksudnya ?

Seringkali kita melakukan kebaikan pada orang lain, dan kita menilai diri kita telah baik (nilai 9). Sementara orang yang menerima “kebaikan” kita tersebut memberikan kita point 6. Dari sisi dia melihat kebaikan itu masih bernilai 6. Dari sisi yang telah berbuat kebaikan dinilai dengan point 9.

Orang Tua Thinking Dan Anak Intuiting

Orang tua Thinking membuat aturan yang normatif, saklek, serba teratur, formal kepada anaknya yang Intuiting. Bagi orang tua Thinking itu adalah kebaikan versi 9 baginya. Bagi anak yang Intuiting dia melihat perlakuan ibunya itu sangat tidak menyenangkan, dia memberi dengan nilai 6.

Mesin Kecerdasan Intuiting butuh ruang untuk berekspresi, bereksplorasi, keluar dari normatif “out of the box”, sehingga anak Intuiting sebenarnya hanya butuh aturan yang maksimal nilainya 6. Gak usah sampai 9, agar dia punya ruang gerak 3 point untuk berekspresi, membuat versi nya sendiri. Ketika dia mendapatkan 3 Point untuk berekspresi, mengeksplorasi versinya sendiri, barulah dia akan menilai kebaikan si ibu sebagai nilai 9.

Orang Tua Feeling Dan Anak Thinking

Perbedaan posisi 69 antara orang tua Feeling dengan anak Thinking. Orang tua Feeling senang menemani anaknya untuk belajar sebagai wujud perhatiannya. Bagi orang tua dia telah melakukan yang terbaik versi dirinya sendiri (nilai 9). Bagi anak yang Thinking, sering ditemani saat belajar membuat dia merasa tidak percaya diri. “Ibu tidak memberikan aku kepercayaan”, begitu dalam hatinya si anak Thinking. Alih-alih si anak belajar, yang ada, dia gak konsentrasi memikirkan dirinya yang tidak dipercaya ibunya. Anak melihat kebaikan ibu Feeling menemaninya dengan nilai 6.

Seandainya ibu tahu kebutuhan anak Thinking nya yang sudah punya Bakat Mandiri, tidak perlu ditemani, maka cukuplah ditanyakan saja “apakah ibu perlu menemani kamu belajar ?” Jika tidak jawabnya, maka ibu pergilah, jangan Baper. Jika iya jawabnya. Maka temanilah. Berilah ruang 3 point untuk anak Thinking memiliki Privasi, Kepercayaan dan Kemandirian, agar dia menghargai kebaikan si ibu Feeling yang ingin menemaninya.

Suami Sensing Dan Istri Feeling

Bagi suami Sensing, memberikan kebutuhan uang, materi, perhiasan yang lengkap, fasilitas yang memadai untuk istrinya yang Feeling adalah sebuah pencapaian keberhasilannya sebagai suami (nilai 9). Tapi, bagi istrinya yang Feeling, fasilitas dan harta lengkap itu belum layak di beri nilai 9 untuk keberhasilan suaminya. Istri hanya melihat harta dan fasilitas mewahnya bernilai 6.

Sementara suami Sensing dengan pedenya mengatakan “kurang apa saya sebagai suami, semua harta, mobil, rumah sudah mewah aku berikan”. Lalu istrinya menjawab “kamu kurang perhatian, tak pernah mengajak saya ngobrol, kumpul-kumpul, tak pernah bertanya saya sudah makan atau belum, saya sedang sakit apa tidak ketika saya diam saja, tak pernah memberikan pujian atas apa yang saya masak, kamu selalu saja makan diluar, tak menghargai upaya saya masak dirumah. Kamu tak pernah punya waktu untuk anak-anak, ngobrol bareng anak tak mau. Kamu selalu sibuk saja mencari uang. “Kau kira semua bisa dibayar pakai uang mu”, kata istri Feeling.

Pemerintah Dan UMKM

Perbedaan posisi 69 antara dinas pemerintah dengan kebutuhan UMKM. Bagi Dinas Pemerintah, yang telah melakukan pelatihan pelatihan bisnis, workshop, seminar, simposium untuk UMKM di Hotel Mewah, dianggap adalah bagian program yang sudah sukses dengan point 9, “sukses untuk segera menghabiskan anggaran”. Dari sisi pelaku UMKM, kesuksesan kegiatan itu hanya bernilai 6, bagi UMKM cuma untuk mendapatkan “amplop uang transportasi” yang dibagikan sehabis keluar dari ruang seminar. Cukup beli jajan anak-anak dirumah.

Mengenali Kebutuhan Genetik

Penting bagi kita mengkomunikasikan antara kedua belah pihak. Seperti apa versi 9 yang anak anda inginkan, yang pasangan anda inginkan. Jangan sampai anda merasa telah jumawa melakukan yang bernilai 9 tapi dinilai tak ada artinya bagi anak dan pasangan anda. Maka perlu kita mengenali kebutuhan setiap orang dengan mengenali Kepribadian Genetiknya, mengenali Kepribadian Dasarnya. Sehingga kita mudah untuk memberikan kepuasan, pelayanan, yang bernilai 9 karena telah sesuai dengan kebutuhan dasar genetiknya.

3 Cara Mengenali Perbedaan Posisi 69

Perbedaan posisi 69 ini sering kali datang dari kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi. Namanya kebutuhan dasar, maka kita perlu menggali lebih dalam hingga ke dasarnya. Agar ditemukan apa yang menjadi kebutuhan pokoknya, kebutuhan intinya. Berikut 3 cara mengenali apa yang menjadi kebutuhan dasar setiap orang berdasarkan kepribadiannya.

1. Perbanyaklah Komunikasi

Tanyalah apa yang pasangan dan anak anda harapkan dari anda. Sampaikan apa yang anda harapkan dari anak dan pasangan anda. Buatlah listnya, dan komunikasikan bagaimana caranya memenuhi harapan-harapan tersebut. Carilah jalan tengahnya. Agar ketemu point 9 di masing-masing pihak.

2. Penuhi Harapan

Setelah langkah 1 dilakukan. Maka berupayalah semaksimal mungkin untuk memenuhi point-point yang telah disepakati agar nilai 9 sama di dapat. Agar sama-sama bisa menikmati hubungan tersebut. Agar sama-sama merasakan kenikmatan berhubungan secara sosial. Sedikit keluar dari zona nyaman tidak masalah, ketika proses untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Tapi perjuangan anda, akan menghasilkan hubungan sosial yang harmonis. Anda tidak lagi menyimpan hasrat-hasrat terpendam, karena telah di komunikasikan di awal.

3. Kenali Potensi Genetik

Jika anda sulit menemukan perbedaan posisi 69 ini, sulit mengetahui versi 9 dari kebutuhan anak dan pasangan anda, kebutuhan orang tua, mertua, karyawan dan bos anda. Maka kenalilah mereka lebih dalam karakternya, sifatnya dan kebutuhannya dengan mengenali Potensi Genetiknya.

Cara paling mudah untuk Mengenali Potensi Genetik seseorang adalah dengan melakukan Tes STIFIn. Tes yang dilakukan dengan scan 10 sidik jari untuk mengetahui Potensi Genetik seseorang. Sehingga akan tahu kita seperti apa karakter dan sifat aslinya. Saya ada partner Promotor STIFIn yang bisa membantu anda untuk menjelaskan Apa Itu STIFIn dan Bagaimana Cara Tesnya.

Kesimpulan

Dengan adanya perbedaan posisi 69 ini maka : Berhentilah merasa jumawa telah berbuat baik kepada siapapun, sebelum anda tahu apa kebutuhan terdalamnya. Karena kebaikan anda bisa saja tidak bernilai apapun di mata mereka. Maka penting untuk mencari tahu apa versi terbaik anda bagi orang lain, terutama bagi orang terdekat.

Bagi anda yang nyaman tinggal di area dingin pegunungan, dan anda merasa itulah termpat terbaik untuk semua jenis tanaman. Maka, kalau anda tak mengenal karakter biji kurma, anda akan menanam dan berkebun kurma di daerah pegunungan. Begitulah analogi, jika kita tidak mengenal Potensi Genetik seseorang. Kita menjadi salah perlakuan, salah didik, salah bersikap dan salah asuh. Alhasil, kurma yang telah di tanam di pegunungan tidak menghasilkan apapun.

Ferri Azwar
Solver Ferri Azwar - Owner STIFIn Brain, Pemilik Cabang STIFIn Kota Binjai. Trainer dan Solver STIFIn. Pengusaha Donita Food. Produsen & Distributor Makanan Olahan Beku. Tinggal di Kota Medan.

Beri Ulasan

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru