Mengenali Pintu Masuknya Godaan Setan

Menolak Godaan Setan merupakan perjuangan yang harus dilalui manusia. Menurut Ustadz Fairuz Abadi, manusia memiliki celah kelemahan yang dijadikan setan untuk menjatuhkannya dalam kemaksiatan. Berikut ulasannya.

Fisik dan tampilan manusia itu sempurna sebagaimana Allah nyatakan “ahsana taqwiim”. Tapi tidak dengan dalemannya (red : Genetik), banyak ayat Al-Qur’an yang menyatakan kelemahan-kelemahannya.

Yang paling tegas adalah : ayat “innahu kaana dholuuman jahuula”, sungguh ia (manusia) adalah tukang berbuat zalim dan tukang berbuat kebodohan.

Saya melihat bahwa Konsep STIFIn ini membuktikan semua kebenaran ayat-ayat Allah tentang daleman manusia.

  1. Pertama, bisa membaca dan mengukur potensi baik yang berbeda-beda antara satu manusia dengan manusia lainnya, dan ini bisa digunakan untuk mengarahkan pemilik Mesin Kecerdasan tertentu dalam mengambil peran yang tepat dalam kehidupannya.
  2. Kedua, sebaliknya bisa membaca dan mengukur kelemahan dan kekurangan yang juga berbeda-beda dari masing-masing pemilik Mesin Kecerdasan.

Justru yang kedua inilah paling pentingnya. Dibandingkan dengan ayat yang menyatakan manusia sebagai makhluk yang sebaik-baiknya, maka ayat yang menegaskan tentang kelemahannya justru jauh lebih banyak, dan itu merupakan faktor internal.

Bila faktor internal manusia banyak lemahnya maka apa yang terjadi bila bertemu dengan faktor-faktor eksternal manusia yang juga melemahkannya? Dan pilihan cuma ada 2, bila ia kuat maka ia selamat, tapi bila tidak kuat maka ia akan jatuh, dan manusia yang jatuh sangatlah banyak, dan memang jauh lebih banyak yang jatuh daripada yang selamat.

“Laqod haqqol qoulu alaa aktsarihim fahum laa yukminuun.”

Titik Kelemahan Manusia

Titik-titik kelemahan manusia itulah yang selalu diincar setan. Setan hanya bisa masuk melalui celah-celah kelemahan manusia tersebut. Ia tak bisa masuk pada manusia yang tidak lemah atau yang mampu menutup semua kelemahannya.

Benar bahwa dalam Konsep STIFIn kita bisa mengukur orientasi manusia berdasarkan Mesin Kecerdasannya :

  • Sensing orientasi akan Harta
  • Thinking orientasi akan Tahta
  • Intuiting orientasi akan Kata
  • Feeling orientasi akan Cinta
  • Insting orientasi akan Bahagia

Maka itulah sebenarnya celah-celah yang akan dimasuki setan. Sehingga mengetahui orientasi dalam diri kita menjadi wajib buat diketahui karena sejalan dengan ayat, “wa fii anfusikum afalaa tubshiruun”, dan pada diri kalian apakah kalian tidak lihat ? Ayat ini adalah perintah buat meneliti tentang diri manusia.

Ada apa dengan manusia?

Dulu Rasulullah saw pernah bersabda dalam hadits riwayat Imam Muslim dari sahabat Anas bin Malik RA,

Pada saat Allah selesai membentuk Adam, Allah tinggalkan Adam. Lalu datanglah iblis mengelilinginya, ia teliti seperti apa Adam? Maka tatkala iblis tahu bahwa Adam berongga, seketika itu pula iblis mengetahui bahwa Adam adalah makhluk yang diciptakan tanpa mampu mengendalikan dirinya.

Itulah kepakaran iblis, tak ada yang memberitahunya tentang siapa Adam tapi sekadar melihat bahwa Adam punya rongga maka dia tahu kelemahan Adam. Maka pasukan iblis selalu mengincar kelemahan manusia untuk kemudian dia jatuhkan lewat titik lemahnya itu.

Orientasi Setiap Mesin Kecerdasan

Boleh jadi manusia dengan sifat Sensing ia berpotensi jatuh pada maksiat korupsi, mencuri dan bahkan merampok sebab ia punya orientasi pada harta. Ia mungkin bisa menolak godaan setan yang datang dari godaan cinta.

Tipe Thinking mungkin akan jatuh pada maksiat kesewenang-wenangan, zalim dan keras pada orang karena orientasinya adalah kekuasaan (tahta). Ia mungkin bisa menolak godaan setan yang tak terlalu terkait dengan orientasinya.

Tipe Intuiting mungkin akan jatuh pada perbuatan sihir kata-kata hingga mudah mengadu domba orang, memprovokasi, umbar janji dan lainnya.

Tipe Feeling mungkin akan jatuh pada maksiat cinta popularitas, pencitraan yang menipu, memberi harapan palsu dan lainnya.

Tipe Insting mungkin akan jatuh pada kesenangan hidup yang damai, tenang, tak ada gangguan hingga merasa berat bila harus berkeras-keras dalam hidup, dan bisa jadi sangat berat untuk berjihad.

Jadi, tidak semua manusia jatuh pada maksiat yang sama sebab kelemahan setiap manusia berbeda-beda. Jadi mengetahui kelemahan diri bisa menjadi bekal yang memadai buat menolak godaan setan.

Wallahu A’lam.

Ustadz Fairuz Abadi
Penulis Buku : Hadiah Cinta Dari Instanbul

Baca Juga : Tanda rumah tangga berkah dan neraka 

Categories

tes-stifin