HomeProfesiTanya Jawab Mas Indrawan

Tanya Jawab Mas Indrawan

 

1. Seberapa persen tingkat spekulasi kita dalam investasi modal awal menjalankan bisnis?

Solusi : Kalau Saya bukan aliran spekulan. Saya hitung benar peluang untung ruginya. Kalau banyak area yang diluar kontrol saya, maka saya hindari. Kalau peluang kerugian nilainya lebih tinggi dari standar yang saya bisa pikul, saya hindari. Intinya, semua perlu dihitung. Jangan putuskan investasi bisnis pakai emosi. Ketika kita sangat bersemangat atas tawaran bisnis, justru jangan putuskan saat itu. Colling down dulu. Kalau sudah netral lagi emosinya baru pertimbangkan.

2. Dalam fitness apakah sama dengan penentuan segmentasi pasar kita?

Solusi : Salah satunya iya. Namanya Founder/Business Fitness. Temukan segmen pasar bukan hanya yang paling menjanjikan secara bisnis namun juga yang paling gue banget.

3. Bagaimana (cara apa saja) menggembleng anak Ie (usia 15 tahun) agar mulai mengarah pada bakat bisnisnya?

Solusi : Tergantung mesin kecerdasannya. Kalau I seperti anak sulung saya, maka suruh dia berkarya, kemudian jual karyanya itu ke teman-temannya. Kalau S ya suruh dia dagangin apa yang saat itu lagi digandrungi teman-temannya.

4. Bagaimana cara menantang orang introvert untuk berani berbisnis? Tergantung mesin kecerdasannya.
Contoh, saya feeling yang punya banyak visi, hanya bingung dan belum tahu step awal untuk terjun ke bisnis?

Solusi : Perluas pergaulan dengan para pebisnis. Deteksi bisnis mana yang rasanya paling kena di hati. Banyak diskusi dengan orang yang bisnisnya seperti itu. Berpartner dengan orang yang sudah hebat disitu. Mulai bisnis bersama dia.

5. Segmentasi bisnis STIFIn itu dimana? jika seandainya menengah ke atas, bagaimana caranya membantu masyarakat menengah ke bawah agar dapat manfaat dari STIFIn. Setiap orang tua pasti ingin anaknya sukses mulia, namun karena keterbatasan biaya, mereka tidak bisa mengenali potensi anaknya. Apa yang bisa kita bantu untuk mereka?

Solusi : Buat Tiering product. GRATIS khusus untuk dhuafa full konten. Terjangkau untuk full konten tapi layanan terbatas, karena mahal untuk full konten dengan layanan spesial. Orang kaya nggak akan mau pilih yang kelas terjangkau apalagi gratisan. Mestinya… kalau masih cari gratisan berarti cuma kaya-kayaan 🙂

6. Pak Indrawan, saya mau contoh presentase bagi hasil investor, kalo gak kerja lapangan tapi kirim ide, ikut kerja dilapangan juga, sama gak kerja sama sekali tapi hanya menanam invest dana aja? Teknisnya kayak gimana ya pak indra? Terus kalau awal hanya menanam uang, lama-lama gatal ikut di management, perlu Diganti kontrak bagi hasil deviden atau ngambil dari 2 sumber (deviden dan management) ?

Solusi : Tidak ada aturannya. Semua tergantung kesepakatan para pendiri. Yang jelas kalau cuma modal ide doang, biasanya nggak ada yang mau invest. Jadi pilihannya Ide + Kerja, atau Ide + Invest. Bedakan uang dividen (yang berdasarkan jumlah saham) dengan gaji profesional. Sang pemilik (investor) begitu masuk manajemen harus dapat gaji (kecuali ada kesepakatan lain). Gaji itu tidak mengurangi saham atau jatah dividennya. 

7. Dalam penjualan jasa, apakah yang menjadi parameter sukses dalam menaikkan benefit, dan untuk membuka cabang baru. Bagaimana cara mendapatkan mitra dan karyawan yang tepat? dan bagaimana pembuat SOP karena kontrol dari jarak jauh *Te* ?

Solusi :
a. Benefit untuk siapa? Kalau untuk karyawan ya fasilitas tambahan misalnya. Kalau untuk pelanggan ya layanan ekstra yang benar-benar berdampak positif.
b. Cari mitra dari rekomendasi teman. Kemudian habiskan banyak waktu dengan dia. Kenali kebiasaannya. Akhlak nomor satu. Bagaimana dia dengan keluarganya? Kalau nurani Anda mengatakan dia adalah partner yang expert dan amanah, maka tawarkan kerjasama.
c. Belajar aja dari gurunya. Banyak kok yang bisa ngajarin. Googling aja. Bidang saya bukan itu.

8. Strategi marketing saya bisnis sewa apartemen kelas menengah di Bintaro pesanggrahan via _AirBnB_. Bagaimana strategi untuk apartemen saya beda dengan yang lainnya sehingga selalu tingkat hunian mendekati 100% ?

Solusi : Ini pembahasannya panjang banget ya, tapi kalau saya yang jawab paling berupa gagasan karena saya tidak berbisnis AirBnB. Jadi saya kasih linknya saja ya, silahkan di pelajari sendiri. Kalau problem dengan bahasa inggris bisa pakai Google Translate.
https://community.withairbnb.com/t5/Help/25-tips-to-get-booked/td-p/141233

9. Bagaimana cara agar menang bersaing dalam situasi Red Ocean? Aplikasi nya dengan menggunakan digital marketing.

Solusi :
Cuma dua pilihannya: Banting harga atau ciptakan diferensiasi. Setelah putuskan mau pakai strategi yang mana, gunakan digital marketing untuk mengamplifikasi penjualannya.

10. Apa yang harusnya di lakukan sama *Se* kalau dia sudah tidak nyaman dalam pekerjaan nya? Lebih baik tetap menjadi karyawan atau resign ?
Apalagi Se ini pernah punya kasus, sehingga karirnya agak terlambat bahkan sudah terlewati oleh rekan-rekan seangkatannya.

Solusi : Tidak nyaman sama pekerjaannya atau perusahaannya? Kalau perusahaan, maka keluar saja kemudian cari pekerjaan sama di perusahaan berbeda. Kalau pekerjaan, ya cari dulu maunya pekerjaan seperti apa, kemudian ngomong sama bagian terkait dan unjuk gigi bahwa anda pantas dipercayakan di pekerjaan itu. Se emang bagusnya jadi eksekutif, nah tinggal cek aja seberapa mampu membalikkan keadaan setelah punya kasus itu. Perbaiki di tempat yang sama atau mulai dari awal di tempat lain.

11. Saya Intuiting ekstrovert, buat barang-barang yang mendukung bisnis yang sifatnya aset saya berani untuk habis-habisan. Dan ini buat sama Intuiting banget, nah tinggal satu ini buat sifatnya melekat ke tubuh. Saya sudah berhasil banyak meninggalkan yang branded, makanya cenderung gak main ke mall bagus. Takut sedih, Hehehe..
Nah bagaimana ngatasin pengen beli barang brand mango dan zara? kalo diganti brand lain udah banyak berhasil, tapi kalo lihat suka pengen, kalap kalau ada discount. Kalo ngak ada discount sih ngak ada kesempatan buat kalap. Intinya barang kualitas yang melekat ke tubuh, yang sifatnya bukan investasi?

Solusi : Ini jawaban pribadi ya, saya hanya beli produk Zara atau produk bermerek lain ketika diskon min 50%. Nggak pernah beli new collection. Hebatnya beli barang bagus itu cukup beli satu bisa dipakai bertahun-tahun nggak rusak dan nggak basi modelnya. Kita orang Ie memang harus punya kelas. Jangan beli barang banyak yang murah-murah. Lebih baik beli sedikit saja tapi berkelas. Beli baju, tas, sepatu yang designnya klasik. tak lekang dimakan zaman.
Saya jarang sekali beli baju, jas atau sepatu. Tapi sekali beli, saya cari yang bagus, beli di harga diskon 50-70%, saya bisa pakai hingga 3-5 tahun. Beberapa jas atau baju yang saya pakai saat ini saya beli lima tahun lalu. Dibandingkan orang yang hobi belanja (produk yang harganya murah-murah), anggaran belanja saya di tahun yang sama bisa jadi lebih sedikit dibandingkan dia.

12. Saya S golongan darah O, merasa tak pandai bisnis. Sudah 2 kali bisnis pendidikan, dilepas ke sosial. Di hutangin orang, gak tega nagih akhirnya di ikhlaskan. Punya karyawan, mending tak dapat apa-apa yang penting utamakan gajian mereka Dll. Karena S, alhamdulillah ada aja peluang. Tapi ya itu tadi pak, tidak suka kalau bisnis banget cara mainnya hahaha. Apa ya masalah saya (apakah itu masalah?) dan harus gimana kalo diberi peluang dan amanah bisnis berikutnya?

Solusi: Segera buat keputusan. Mau berbisnis atau bekerja? Jangan separuh-separuh. Begitu dipilih, harus lakukan cara terbaik di profesi itu. Berbisnis harus untung, bekerja harus profesional. Jangan jadikan kelemahan diri sebagai alasan. Goldar O mungkin bisa memicu jadi tidak tegaan, tapi itu bukan alasan kalau memang niat serius berbisnis. Sensingnya jangan kalah sama golongan darahnya. Seharusnya orang S tidak punya masalah dengan bisnis.
Saya khawatir ketika Anda mengikhlaskan hutang orang, itu bukan ikhlas melainkan pasrah. Untuk bisa sampai pada kerja ikhlas, harus kerja Keras dan kerja Cerdas dulu. Sudah dilakukan belum? Mengutamakan gajian karyawan itu harus, bukan pilihan, bukan keutamaan juga. Melainkan WAJIB memberikan hak karyawan. Namun bukan berarti nggak apa kalau nggak untung.
Kalau memang belum siap berbisnis, mungkin bisa coba berdagang dulu (yang jadi alamiahnya sensing). Karyawan tidak perlu banyak dulu. Bayar pakai sistem komosi kalau perlu. Sambil pelan-pelan, melatih otot mental bisnisnya. Tapi ingat, namanya bisnis harus untung. Kejar untung di dalam koridor hukum, moral dan agama tentu saja.

13. Bagaimana cara yang baik buat ber partner? Saya In, golongan darah 0, dan saat ini lagi bangun tim Digital Marketing Agency dan mencari partner untuk bagian Developer / Programmer. Karena skill developer ini jarang yang mumpuni, jadi harus memilih antara skill dan MK.
Contohnya sekarang saya lagi tertarik dengan calon partner yang menurut saya skillnya mumpuni, tapi MK nya sama dengan saya, yaitu In. Dalam kasus seperti ini, antara memilih MK dan Skill, apa yang coach Indrawan sarankan  untuk sebaiknya dilakukan?

Solusi: Untuk kepentingan jangka pendek Skill memang diatas MK, namun untuk jangka panjang sebaiknya cari yang skill bagus dan MK nya sesuai. Contoh, saya punya karyawan online sales yang tugasnya jualan dengan membalas chat WA. Jumlahnya ratusan per hari. MK nya Intuiting, ya nggak cocok. Tapi dia bagus kerjanya, pelanggan happy, kita happy. Jualan lantjaaar.
Namun kita tahu, bahwa ada titik dimana si Intuiting ini akan jenuh. Kehebatannya dalam tekun membalas chat ada batasnya, dimana tidak akan mampu mengalahkan si Sensing dengan skill dan ketekunan yang sama dengan dia. Maka dalam jangka panjang kita harus carikan pekerjaan yang lebih sesuai dengan Intuitingnya. Partneran dengan MK sama akan berhasil jika salah satunya berada di Maqom yang lebih tinggi, Jangan setara. Demikian juga dengan pernikahan sesama MK.

14. Saya Feeling Extrovert. Usaha mulai bisnis jaringan Enagic, lalu Butik, Publishing, Event Organizer, Penulis buku, semua berjalan cukup baik. Namun 1 sisi yang rasanya membebani yaitu saya masih PNS di RSU. Dari riwayat ini adakah saran terbaik untuk fokus 1 hebat, lebih pas ke yang mana Coach? Goldar saya A.
Sekarang ini juga sedang kerjasama buat buku duet dengan feeling extrovert juga tapi beliau sudah Mentor Nasional, apakah duo fe berpartneran itu akan banyak tantangan atau gimana ya Coach baiknya?

Solusi: Partneran sesama F tidak disarankan, kecuali mampu bersikap dan perilaku melampaui level personality, yaitu setidaknya di level mentality. Atau perlu ada ‘penengah’ yang MK nya I. Mana yang lebih pas? Karena Anda F, maka pilih yang hati anda sepenuhnya ada disitu. Bukan pilih mana yang paling menguntungkan, paling prospek, paling mudah. Jadi eksplore dulu pakai radar perasaan Anda. Begitu radar perasaan Anda mendeteksi sinyal sangat kuat pada salah satunya, jatuhkan pilihan ke situ.

15. Saya F golongan darah A, bagaimana baiknya menghadapi penawaran produk yang sama dengan jarak cukup dekat? meminimalisir persaingan antara satu dan lainnya caranya bagaimana ya pak?

Solusi: Seperti banyaknya Indomaret dan Alfamart yang berdekatan padahal ketika kita tau isinya sama saja atau menawarkan kegiatan training/seminar pengembangan diri ke personal dan perusahaan.  Buat differensiasi, tidak ada pilihan lain. Beri Value lebih pada klien (atau pelanggan) yang tidak buat kantong anda bolong. Cari tahu dulu apa Value lebih yang diinginkan si pelanggan dan itu tidak mereka dapatkan dari pesaing?

16. Saya nizar, Intuiting introvert, Golongan Darah B. Pekerjaan saat ini adalah Associate Learning Partner (trainer merangkap program manager untuk beberapa program pelatihan) dan pegang tanggung jawab untuk membuat dan menyusun Internal Facilitator Management. seperti yang pernah saya ceritakan sekilas ke Mas Indrawan saat TBnC#18 yg lalu. Saya dari dulu selalu terlalu banyak ide dan konsepnya bagus, tetapi tidak bisa mengimplementasikannya dengan baik, dan juga orang selalu bilang saya orang yang terlalu banyak keinginan dan ingin meraih semuanya, tapi akhirnya gagal dan tidak ada yang pernah di seriusi serta berbuah hasil.
Sementara saat ini, saya merasa dan baru berani mengakui bahwa saat mengajar atau berbagi kepada orang lain, saya merasakan ada kepuasan tersendiri sehingga berkeinginan menekuni dunia ini, khususnya menjadi trainer atau pemilik training institusi. Tetapi dengan kondisi yang ada sekarang saya masih galau ni, Mas ?
Apa yang bisa saya lakukan dalam waktu cepat agar bisa menemukan “Fokus-satu hebat” dan karpet merah saya, seperti halnya Mas Indrawan ?

Solusi: Ini kasusnya banyak terjadi di mentee saya di program TEMPA. Maunya banyak padahal kemampuannya masih terbatas. Akhirnya tidak jadi siapa-siapa. Kalau dibiarkan bahaya. Mereka akan terjebak cuma jadi kerumunan. Memang harus dipaksa. Seperti dulu mas Farid memaksa saya memilih. Saya pun ‘memaksa’ para mentee saya memilih. Pilihlah yang memenuhi ketiga kriteria ini: Sesuai passion, punya expertise disitu, dan tarikan pasarnya kuat.
Jangan bilang kalau semuanya memenuhi ketiga kaidah itu ya. Karena kalau bilang gitu, artinya pemahaman anda tentang diri anda sendiri dan pengetahuan anda tentang pasar masih sangat dangkal sekali.

17. Saya Andi Ie, putra dan goldar B. Saya mau tanya beberapa hal tentang bisnis yang memang benar-benar saya mulai.
Jadi memang baru mulai Get Starting.
– Saya sudah menentukan di area mana saya memulai bisnis, karena di area ini  memang jarang orang masuk dan saya punya aksesnya. Yaitu di pondok pesantren, pengajar dan santri sebagai subjeknya
– Di area ini benar-benar STIFIn amat sangat membantu, tetapi ketika dihadapkan dengan angka 350rb rata-rata mereka mundur, walau saya bercerita tentang banyak keunggulan-keunggulan dan kebaikan-kebaikan dengan STIFIn ini. Di awal saya tidak mengatakan STIFIn terlebih dulu atau saya tidak mengatakan 350rb terlebih dulu.
– Bagaimana tips dan trik untuk mengatasinya? 

Solusi: Kalau memang mau masuk ke pesantren, cari pesantren yang santrinya atau orang tua santrinya kaya-kaya, demikian juga pengurusnya punya mindset kaya. Jangan pesantren yang gratisan, tidak akan dibeli, salah sasaran. Untuk mereka kasih gratisan saja kerjasama dengan STIFIn pusat, jangan di bisnisin. Hanya karena anda punya akses bukan berarti itu pasar yang bagus kan?

18. Lanjutan pertanyaan no 9 sesi 1/atas jawaban no 9. Bisa exploring lagi yah mas indrawan, begini ini pertanyaan dari teman promotor dicabang Depok, langsung aja kita fokus bicara dalam hal ini STIFIn, kebetulan Cabang Depok ini baru dan saya selalu wanti wanti untuk teman promotor menggunakan segala daya upaya, akhlaq, adab, etika muamalah sesuai aturan yang berlaku. Tidak menggunakan praktik praktik yang melanggar kode etik Promotor, nah sedangkan mungkin dihadapi pada kondisi dimana misalnya promotor kami masuk sekolah harga sesuai aturan 650.000 lalu ada yang menggunakan praktik yang tidak baik dan berkah misal saja menjual di 300.000 atau bahkan 250.000 ,konsep banting harga akan sangat enggak mungkin dalam STIFIn ini. kebetulan yang nanya MK nya Insting. Kalau saya sudah pasti karena Intuiting mau ada kode etik atau tidak saya sudah pasti melakukan diferensiasi. Karena 350.000 sudah murah. Nah bisa diperdalam lagi mas penggalian jawaban no 9 ini. Atau lebih aplikatif agar teman teman yang main diread ocean misalnya sekolah. Lebih punya strategis marketing yang mumpuni dan jitu. Terimakasih

Solusi: Kalau sesama promotor STIFIn ada yang curang, laporkan ke pusat dengan niatan sebagai pengingat bagi yang bisa sehingga dia tidak terkena dosa khianat. Biar pusat yang menegur dia dan memberikan sangsi. Dalam pasar yang Red Ocean, cuma ada dua pilihan. Turunkan harga atau diferensiasi. Karena tidak bisa turunkan harga, maka harus diferensiasi. Nah diferensiasi ini tidak harus gaya Intuiting. Bisa gaya Feeling yaitu dengan pendekatan personal. Menangkan hati prospek. Gaya Thingking pakai sistem jaringan. Gaya Sensing yang rajin pameran dan ketok pintu. Gaya Insting dengan memafaatkan aksesnya yang luas. Jangan suruh dia keluar dari jalur kehebatan MKnya. Justru suruh dioptimalkan. Disitulah letak kekuatan diferensiasi dia.

19. Sebenarnya apa si beda bisnis dengan dagang?
Terkadang jelasin ke klien itu rancu, antara orang Sensing yang ahli dagang dan orang Intuiting yang ahli bisnis. Mohon penjelasan
Terus, kalo feeling itu lebih baik partner sama sensing atau Intuiting?

Solusi: Sesungguhnya dagang itu salah satu bentuk bisnis. Bedanya dagang itu fokus pada pertukaran barang. Si pedagang tidak memproduksi sendiri barang dagangannya. Dia mengambil dari produsen atau supplier. Dia mengambil untung (margin) dari selisih harga pembelian barang dengan harga penjualannya. Sementara bisnis secara umum biasanya terkait unsur produksi, apakah berbentuk barang atau jasa. Jadi bisnis lebih kompleks. Banyak hal yang harus di urusin. Banyak resiko yang harus ditanggung. Namun kelebihannya adalah bisa mendapatkan margin keuntungan yang lebih tinggi. Kunci sukses dagang adalah volume penjualan, maka dagang cocok bagi Sensing karena selain simpel dia juga rajin jualan. Kunci sukses Bisnis adalah nilai tambah yang menghasilkan margin keuntungan lebih tinggi, maka Intuiting lebih cocok karena kreativitasnya.
Urusan partner ship, kalau anda mau ada di depan maka cari Intuting yang alamiahnya mendukung anda. Kalau anda maunya ada di belakang, maka cari Sensing yang alamiahnya anda akan dukung.

20.  Saya ibu dengan Personality Genetik Se Golongan darah A dan Suami Ti Golongan darah AB. Punya 2 putri, yang besar In umur 14 tahun mondok dan sekolah reguler (Mts) dia aktif di organisasi sekolah cita-citanya designer Golongan darah A. Yang kecil umur 10 tahun PG Fe Golongan darah A.
Pertanyaannya:
1. Bagaimana cara menangani / mengakomodir keinginan/ cita-cita keduanya sesuai dengan MKnya.
2. Untuk yang kecil ini moody banget. Dan belum kelihatan bakat atau minatnya. Bagaimana cara membangkitkan minatnya/ mengetahui passionnya? 

Solusi: Pertanyaan ini lebih cocok dijawab oleh Miss Hiday ya. Saya fokus di urusan bisnis saja. Tidak mau pura-pura hebat dalam semua hal.

21. Bagaimana menentukan dan menjalani bisnis bagi pasutri yang sama MK nya, mulai dari S-S, T-T, I-I, F-F dan In-In,Waduh.

Solusi: Ini satu modul Workshop STIFIn Bisnis. Puaaaanjaaaaaaang. Nanti akan terjawab dengan sendirinya saat workshop.

22. Bagaimana mengajarkan anak untuk memulai bisnis sejak kecil dengan harapan lulus SMA atau S-1 sudah memiliki bisnis sendiri? Saya Fe, istri Fi, Anak pertama Se SMP kelas 9, anak kedua Te SD kelas 4

Solusi: Bapak Ibunya yang F memotivasi dan memodali si anak S untuk mulai jualan barang-barang yang diminati teman-temannya di sekolah. Marketnya teman-temannya sendiri aja dulu. Sampai nanti dia ketagihan dapat uang. Sedikit demi sedikit, marketnya di perluas ke lingkungan rumah begitu seterusnya. Anak T sementara ini disuruh bantu-bantu kakanya aja dulu. Ajari dan tunjukkan pada dia logika proses bisnis itu seperti apa.

 

 

1. Seberapa persen tingkat spekulasi kita dalam investasi modal awal menjalankan bisnis?

Solusi : Kalau Saya bukan aliran spekulan. Saya hitung benar peluang untung ruginya. Kalau banyak area yang diluar kontrol saya, maka saya hindari. Kalau peluang kerugian nilainya lebih tinggi dari standar yang saya bisa pikul, saya hindari. Intinya, semua perlu dihitung. Jangan putuskan investasi bisnis pakai emosi. Ketika kita sangat bersemangat atas tawaran bisnis, justru jangan putuskan saat itu. Colling down dulu. Kalau sudah netral lagi emosinya baru pertimbangkan.

2. Dalam fitness apakah sama dengan penentuan segmentasi pasar kita?

Solusi : Salah satunya iya. Namanya Founder/Business Fitness. Temukan segmen pasar bukan hanya yang paling menjanjikan secara bisnis namun juga yang paling gue banget.

3. Bagaimana (cara apa saja) menggembleng anak Ie (usia 15 tahun) agar mulai mengarah pada bakat bisnisnya?

Solusi : Tergantung mesin kecerdasannya. Kalau I seperti anak sulung saya, maka suruh dia berkarya, kemudian jual karyanya itu ke teman-temannya. Kalau S ya suruh dia dagangin apa yang saat itu lagi digandrungi teman-temannya.

4. Bagaimana cara menantang orang introvert untuk berani berbisnis? Tergantung mesin kecerdasannya.
Contoh, saya feeling yang punya banyak visi, hanya bingung dan belum tahu step awal untuk terjun ke bisnis?

Solusi : Perluas pergaulan dengan para pebisnis. Deteksi bisnis mana yang rasanya paling kena di hati. Banyak diskusi dengan orang yang bisnisnya seperti itu. Ber pathner dengan orang yang sudah hebat disitu. Mulai bisnis bersama dia.

5. Segmentasi bisnis STIFIn itu dimana? jika seandainya menengah ke atas, bagaimana caranya membantu masyarakat menengah ke bawah agar dapat manfaat dari STIFIn. Setiap orang tua pasti ingin anaknya sukses mulia, namun karena keterbatasan biaya, mereka tidak bisa mengenali potensi anaknya. Apa yang bisa kita bantu untuk mereka?

Solusi : Buat Tiering product. GRATIS khusus untuk dhuafa full konten. Terjangkau untuk full konten tapi layanan terbatas, karena mahal untuk full konten dengan layanan spesial. Orang kaya nggak akan mau pilih yang kelas terjangkau apalagi gratisan. Mestinya… kalau masih cari gratisan berarti cuma kaya-kayaan 🙂

6. Pak Indrawan, saya mau contoh gambaran presentase bagi hasil investor, kalo gak kerja lapangan tapi kirim ide, ikut kerja dilapangan juga, sama gak kerja sama sekali tapi hanya menanam invest dana aja? Teknisnya kayak gimana ya pak indra? Terus kalau awal hanya menanam uang, lama-lama gatal ikut di management, perlu Diganti kontrak bagi hasil deviden atau ngambil dari 2 sumber (deviden dan management) ?

Solusi : Tidak ada aturannya. Semua tergantung kesepakatan para pendiri. Yang jelas kalau cuma modal ide doang, biasanya nggak ada yang mau invest. Jadi pilihannya Ide + Kerja, atau Ide + Invest. Bedakan uang dividen (yang berdasarkan jumlah saham) dengan gaji profesional. Sang pemilik (investor) begitu masuk manajemen harus dapat gaji (kecuali ada kesepakatan lain). Gaji itu tidak mengurangi saham atau jatah dividennya.

7. Dalam penjualan jasa, apakah yang menjadi parameter sukses dalam menaikkan benefit, dan untuk membuka cabang baru. Bagaimana cara mendapatkan mitra dan karyawan yang tepat? dan bagaimana pembuat SOP karena kontrol dari jarak jauh *Te* ?

Solusi :
a. Benefit untuk siapa? Kalau untuk karyawan ya fasilitas tambahan misalnya. Kalau untuk pelanggan ya layanan ekstra yang benar-benar berdampak positif.
b. Cari mitra dari rekomendasi teman. Kemudian habiskan banyak waktu dengan dia. Kenali kebiasaannya. Akhlak nomor satu. Bagaimana dia dengan keluarganya? Kalau nurani Anda mengatakan dia adalah partner yang expert dan amanah, maka tawarkan kerjasama.
c. Belajar aja dari gurunya. Banyak kok yang bisa ngajarin. Googling aja. BIdang saya bukan itu.

8. Strategi marketing saya bisnis sewa apartemen kelas menengah di Bintaro pesanggrahan via _*AirBnB*_. Bagaimana strategi untuk apartemen saya beda dengan yang lainnya sehingga selalu tingkat hunian mendekati 100% ?

Solusi : Ini pembahasannya panjang banget ya, tapi kalau saya yang jawab paling berupa gagasan karena saya tidak berbisnis AirBnB. Jadi saya kasih linknya saja ya, silahkan di pelajari sendiri. Kalau problem dengan bahasa inggris bisa pakai goolge translate.
https://community.withairbnb.com/t5/Help/25-tips-to-get-booked/td-p/141233

9. Bagaimana cara agar menang bersaing dalam situasi Red Ocean? Aplikasi nya dengan menggunakan digital marketing.

Solusi :
Cuma dua pilihannya: Banting harga atau ciptakan diferensiasi. Setelah putuskan mau pakai strategi yang mana, gunakan digital marketing untuk mengamplifikasi penjualannya.

10. Apa yang harusnya di lakukan sama *Se* kalau dia sudah tidak nyaman dalam pekerjaan nya? Lebih baik tetap menjadi karyawan atau resign?
Apalagi *Se* ini pernah punya kasus, sehingga karirnya agak terlambat bahkan sudah terlewati oleh rekan-rekan seangkatannya.

Solusi : Tidak nyaman sama pekerjaannya atau perusahaannya? Kalau perusahaan, maka keluar saja kemudian cari pekerjaan sama di perusahaan berbeda. Kalau pekerjaan, ya cari dulu maunya pekerjaan seperti apa, kemudian ngomong sama bagian terkait dan unjuk gigi bahwa anda pantas dipercayakan di pekerjaan itu. Se emang bagusnya jadi eksekutif, nah tinggal cek aja seberapa mampu membalikkan keadaan setelah punya kasus itu. Perbaiki di tempat yang sama atau mulai dari awal di tempat lain.

11. Saya Intuiting ekstrovert, buat barang-barang yang mendukung bisnis yang sifatnya aset saya berani untuk habis-habisan. Dan ini buat sama Intuiting banget, nah tinggal satu ini buat sifatnya melekat ketubuh. Saya sudah berhasil banyak meninggalkan yang branded, makanya cenderung gak main ke mall bagus. Takut sedih, Hehehe..
Nah bagaimana ngatasin pengen beli barang brand mango dan zara? kalo diganti brand lain udah banyak berhasil, tapi kalo lihat suka pengen, kalap kalau ada discount. Kalo ngak ada discount sih ngak ada kesempatan buat kalap. Intinya barang kualitas yang melekat ke tubuh, yang sifatnya bukan investasi?

Solusi : Ini jawaban pribadi ya, saya hanya beli produk Zara atau produk bermerek lain ketika diskon min 50%. Nggak pernah beli new collection. Hebatnya beli barang bagus itu cukup beli satu bisa dipakai bertahun-tahun nggak rusak dan nggak basi modelnya. Kita orang Ie memang harus punya kelas. Jangan beli barang banyak yang murah-murah. Lebih baik beli sedikit saja tapi berkelas. Beli baju, tas, sepatu yang desaignnya klasik. tak lekang dimakan zaman.
Saya jarang sekali beli baju, jas atau sepatu. Tapi sekali beli, saya cari yang bagus, beli di harga diskon 50-70%, saya bisa pakai hingga 3-5 tahun. Beberapa jas atau baju yang saya pakai saat ini saya beli lima tahun lalu. Dibandingkan orang yang hobi belanja (produk yang harganya murah-murah), anggaran belanja saya di tahun yang sama bisa jadi lebih sedikit dibandingkan dia.

12. Saya S golongan darah O, merasa tak pandai bisnis. Sudah 2 kali bisnis pendidikan, dilepas ke sosial. Di hutangin orang, gak tega nagih akhirnya di ikhlaskan. Punya karyawan, mending tak dapat apa-apa yang penting utamakan gajian mereka Dll. Karena S, alhamdulillah ada aja peluang. Tapi ya itu tadi pak, tidak suka kalau bisnis banget cara mainnya hahaha. Apa ya masalah saya (apakah itu masalah?) dan harus gimana kalo diberi peluang dan amanah bisnis berikutnya?

Solusi: Segera buat keputusan. Mau berbisnis atau bekerja? Jangan separuh-separuh. Begitu dipilih, harus lakukan cara terbaik di profesi itu. Berbisnis harus untung, bekerja harus profesional. Jangan jadikan kelemahan diri sebagai alasan. Goldar O mungkin bisa memicu jadi tidak tegaan, tapi itu bukan alasan kalau memang niat serius berbisnis. Sensingnya jangan kalah sama goldarnya. Seharusnya orang S tidak punya masalah dengan bisnis.
Saya khawatir ketika Anda mengikhlaskan hutang orang, itu bukan ikhlas melainkan pasrah. Untuk bisa sampai pada kerja ikhlas, harus kerja Keras dan kerja Cerdas dulu. Sudah dilakukan belum? Mengutamakan gajian karyawan itu harus, bukan pilihan, bukan keutamaan juga. Melainkan WAJIB memberikan hak karyawan. Namun bukan berarti nggak apa kalau nggak untung.
Kalau memang belum siap berbisnis, mungkin bisa coba berdagang dulu (yang jadi alamiahnya sensing). Karyawan tidak perlu banyak dulu. Bayar pakai sistem komosi kalau perlu. Sambil pelan-pelan, melatih otot mental bisnisnya. Tapi ingat, namanya bisnis harus untung. Kejar untung di dalam koridor hukum, moral dan agama tentu saja.

13. Bagaimana cara yang baik buat partneran coach? Saya In, goldar 0, dan saat ini lagi bangun tim Digital Marketing Agency dan mencari partner untuk bagian Developer / Programmer. Karena skill developer ini jarang yang mumpuni, jadi harus memilih antara skill dan MK.
Contohnya sekarang saya lagi tertarik dengan calon partner yang menurut saya skillnya mumpuni, tapi MK nya sama saya, yaitu In. Dalam kasus seperti ini, antara memilih MK dan Skill, apa yang coach Indrawan sarankan sebaiknya dilakukan?

Solusi: Untuk kepentingan jangka pendek Skill memang atas MK, namun untuk jangka panjang sebaiknya cari yang skill bagus dan MK nya sesuai. Contoh, saya punya karyawan online sales yang tugasnya jualan dengan membalas chat WA. Jumlahnya ratusan per hari. MK nya Intuiting, ya nggak cocok. Tapi dia bagus kerjanya, pelanggan happy, kita happy. Jualan lantjaaar.
Namun kita tahu, bahwa ada titik dimana si Intuiting ini akan jenuh. Kehebatannya dalam tekun membalas chat ada batasnya, dimana tidak akan mampu mengalahkan si Sensing dengan skill dan ketekunan yang sama dengan dia. Maka dalam jangka panjang kita harus carikan pekerjaan yang lebih sesuai dengan Intuitingnya. Partneran dengan MK sama akan berhasil jika salah satunya berada di Maqom yang lebih tinggi, Jangan setara. Demikian juga dengan pernikahan sesama MK.

14. Saya Feeling Extrovert. Usaha mulai bisnis jaringan Enagic, lalu Butik, Publishing, Event Organizer, Penulis buku, semua berjalan cukup baik. Namun 1 sisi yang rasanya membebani yaitu saya masih PNS di RSU. Dari riwayat ini adakah saran terbaik untuk fokus 1 hebat, lebih pas ke yang mana Coach? Goldar saya A.
Sekarang ini juga sedang kerjasama buat buku duet dengan feeling extrovert juga tapi beliau sudah Mentor Nasional, apakah duo fe berpartneran itu akan banyak tantangan atau gimana ya Coach baiknya?

Solusi: Partneran sesama F tidak disarankan, kecuali mampu bersikap dan perilaku melampaui level personality, yaitu setidaknya di level mentality. Atau perlu ada ‘penengah’ yang MK nya I. Mana yang lebih pas? Karena Anda F, maka pilih yang hati anda sepenuhnya ada disitu. Bukan pilih mana yang paling menguntungkan, paling prospek, paling mudah. Jadi eksplore dulu pakai radar perasaan Anda. Begitu radar perasaan Anda mendeteksi sinyal sangat kuat pada salah satunya, jatuhkan pilihan kesitu.

15. Saya F goldar A, bagaimana baiknya menghadapi penawaran produk yang sama dengan jarak cukup dekat? meminimalisir persaingan antara satu dan lainnya. Seperti banyaknya indomaret dan alfamart yang berdekatan padahal ketika kita tau isinya sama saja atau menawarkan kegiatan training/seminar pengembangan diri ke personal dan perusahaan. 

Solusi: Buat differensiasi, tidak ada pilihan lain. Beri Value lebih pada klien (atau pelanggan) yang tidak buat kantong anda bolong. Cari tahu dulu apa Value lebih yang diinginkan si pelanggan dan itu tidak mereka dapatkan dari pesaing?

16. Saya nizar, Intuiting introvert, Golda B. Pekerjaan saat ini adalah Associate Learning Partner (trainer merangkap program manager untuk beberapa program pelatihan) dan pegang tanggung jawab untuk membuat dan menyusun Internal Facilitator Management. seperti yang pernah saya ceritakan sekilas ke Mas Indrawan saat TBnC#18 yg lalu. Saya dari dulu selalu terlalu banyak ide dan konsepnya bagus, tetapi tidak bisa mengimplementasikannya dengan baik, dan juga orang selalu bilang saya orang yang terlalu banyak keinginan dan ingin meraih semuanya, tapi akhirnya gagal dan tidak ada yang pernah diseriusi serta berbuah hasil.
Sementara saat ini, saya merasa dan baru berani mengakui bahwa saat mengajar atau berbagi kepada orang lain, saya merasakan ada kepuasan tersendiri sehingga berkeinginan menekuni dunia ini, khususnya menjadi trainer atau pemilik training institusi. Tetapi dengan kondisi yang ada sekarang saya masih galau ni, Mas ?
Apa yang bisa saya lakukan dalam waktu cepat agar bisa menemukan “Fokus-satu hebat” dan karpet merah saya, seperti halnya Mas Indrawan ?

Solusi: Ini kasusnya banyak terjadi di mentee-mentee saya di program TEMPA. Maunya banyak padahal kemampuannya masih terbatas. Akhirnya tidak jadi siapa-siapa. Kalau dibiarkan bahaya. Mereka akan terjebak cuma jadi kerumunan. Memang harus dipaksa. Seperti dulu mas Farid memaksa saya memilih. Saya pun ‘memaksa’ para mentee saya memilih. Pilihlah yang memenuhi ketiga kriteria ini: Sesuai passsion, punya expertise disitu, dan tarikan pasarnya kuat.
Jangan bilang kalau semuanya memenuhi ketiga kaidah itu ya. Karena kalau bilang gitu, artinya pemahanan Anda tentang diri Anda sendiri dan pengetahuan Anda tentang pasar masih sangat dangkal sekali.

17. Saya Andi Ie, putra dan goldar B. Saya mau tanya beberapa hal tentang bisnis yang memang benar-benar saya mulai.
Jadi memang baru mulai Get Starting.
– Saya sudah menentukan di area mana saya memulai bisnis saya, karena di area ini  memang jarang orang masuk dan saya punya aksesnya. Yaitu di pondok pesantren, pengajar dan santri sebagai subjeknya
– Di area ini benar-benar STIFIn amat sangat membantu, tetapi ketika dihadapkan dengan angka 350rb rata-rata mereka mundur, walau saya bercerita tentang banyak keunggulan-keunggulan dan kebaikan-kebaikan dengan STIFIn ini. Di awal saya tidak mengatakan STIFIn terlebih dulu atau saya tidak mengatakan 350rb terlebih dulu.
– Bagaimana tips dan trik untuk mengatasinya? 

Solusi: Kalau memang mau masuk ke pesantren, cari pesantren yang santrinya atau orang tua santrinya kaya-kaya, demikian juga pengurusnya punya mindset kaya. Jangan pesantren yang gratisan,tidak akan dibeli, Salah sasaran. Untuk mereka kasih gratisan saja kerjasama dengan STIFIn pusat. Jangan di bisnisin. Hanya karena Anda punya akses bukan berarti itu pasar yang bagus kan?

18. Lanjutan pertanyaan no 9 sesi 1/atas jawaban no 9. Bisa exploring lagi yah mas indrawan, begini ini pertanyaan dari teman promotor dicabang depok, langsung aja kita fokus bicara dalam hal ini STIFIn, kebetulan kami cabang baru cabang Depok ini dan saya selalu wanti wanti untuk teman promotor menggunakan segala daya upaya, akhlaq, Adab, etika muamalah sesuai aturan yang berlaku.. Tidak menggunakan praktik praktik yang melanggar kode etik Promotor, nah sedangkan mungkin dihadapi pada kondisi dimana misalnya promotor kami masuk sekolah harga sesuai aturan 350.000 lalu ada yang menggunakan praktik yang tidak baik dan berkah misal saja menjual di 300.000 atau bahkan 250.000 ,konsep banting harga akan sangat enggak mungkin dalam STIFIn ini…kebetulan yang nanya MK nya “instict… Kalau saya sudah pasti karena intuiting mau ada kode etik atau tidak saya sudah pasti melakukan diferensiasi.. Karena 350.000 sudah murah.. Nah bisa diperdalam lagi mas penggalian jawaban no 9 ini.. Atau lebih aplikatif agar teman teman yang main diread ocean misalnya sekolah.. Lebih punya strategiet marketing yang mumpuni dan jitu. Terimakasih

Solusi: Kalau sesama promotor STIFIn ada yang curang, laporkan ke pusat dengan niatan sebagai pengingat bagi yang bisa sehingga dia tidak terkena dosa khianat. Biar pusat yang menegur dia dan memberikan sangsi. Dalam pasar yang Red Ocean, cuma ada dua pilihan. Turunkan harga atau diferensiasi. Karena tidak bisa turunkan harga, maka harus diferensiasi. Nah diferensiasi ini tidak harus gaya Intuiting. Bisa gaya feeling yaitu dengan pendekatan personal. Menangkan hati prospek. Gaya thingking pakai sistem jaringan. Gaya Sensing yang rajin pameran dan ketok pintu. Gaya insting dengan memafaatkan aksesnya yang luas. Jangan suruh dia keluar dari jalur kehebatan MKnya. Justru suruh dioptimalkan. Disitulah letak kekuatan diferensiasi dia.

19. Sebenarnya apa si beda bisnis dengan dagang?
Terkadang jelasin ke klien itu rancu, antara orang Sensing yang ahli dagang dan orang Intuiting yang ahli bisnis. Mohon penjelasan
Terus, kalo feeling itu lebih baik partner sama sensing atau Intuiting?

Solusi: Sesungguhnya dagang itu salah satu bentuk bisnis. Bedanya dagang itu fokus pada pertukaran barang. Si pedagang tidak memproduksi sendiri barang dagangannnya. Dia mengambil dari produsen atau supplier. Dia mengambil untung (margin) dari selisih harga pembelian barang dengan harga penjualannya. Sementara bisnis secara umum biasanya terkait unsur produksi, apakah berbentuk barang atau jasa. Jadi bisnis lebih kompleks. Banyak hal yang harus di urusin. Banyak resiko yang harus ditanggung. Namun kelebihannya adalah bisa mendapatkan margin keuntungan yang lebih tinggi. Kunci sukses dagang adalah volume penjualan, maka Dagang cocok bagi Sending karena selain simpel dia juga rajin jualan. Kunci sukses Bisnis adalah nilai tambah yang menghasilkan marjin keuntngan lebih tinggi, maka Intuiting lebih cocok karena kreativiatsnya.
Urusan partnership. Kalau Anda mau ada di depan, maka cari Intuting yang alamiahnya mendukung Anda. Kalau Anda maunya ada di belakang, maka cari Sensing yang alaminahnya Anda akan dukung.

20.  Saya ibu dengan PG Se Goldar A dan Suami Ti goldar AB. Punya 2 putri yang besar In umur 14 tahun mondok dan sekolah reguler (Mts) dia aktif di organisasi sekolah cita-citanya designer Goldar A. Yang kecil umur 10 tahun PG Fe Goldar A.
Pertanyaannya:
1. Bagaimana cara menangani / mengakomodir keinginan/ cita-cita keduanya sesuai dengan MKnya.
2. Untuk yang kecil ini moody banget.dan belum kelihatan bakat atau minatnya. Bagaimana cara membangkitkan minatnya/ mengetahui passionnya.

Solusi: Pertanyaan ini lebih cocok dijawab oleh Miss Hiday ya. Saya fokus di urusan bisnis saja. Tidak mau pura-pura hebat dalam semua hal.

21. Bagaimana menentukan dan menjalani bisnis bagi pasutri yang sama MK nya, mulai dari S-S, T-T, I-I, F-F dan In-In,Waduh.

Solusi: Ini satu modul Workshop STIFIn Bisnis. Puaaaanjaaaaaaang. Nanti akan terjawab dengan sendirinya saat workshop.

22. Bagaimana mengajarkan anak untuk memulai bisnis sejak kecil dengan harapan lulus SMA atau S-1 sudah memiliki bisnis sendiri? Saya Fe, istri Fi, Anak pertama Se SMP kelas 9, anak kedua Te SD kelas 4

Solusi: Bapak Ibunya yang F memotivasi dan memodali si anak S untuk mulai jualan barang-barang yang diminati teman-temannya di sekolah. Marketnya teman-temannya sendiri aja dulu. Sampai nanti dia ketagihan dapat uang. Sedikit demi sedikit, marketnya di perluas ke lingkungan rumah Begitu seterusnya. Anak T sementara ini disuruh bantu-bantu kakanya aja dulu. Ajari dan tunjukkan pada dia logika proses bisnis itu seperti apa.

 

Beri Ulasan

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru