Home Personality Penyebar Virus Kesyirikan Melalui STIFIn

Penyebar Virus Kesyirikan Melalui STIFIn

by stifinbrain
Penyebar Virus Kesyirikan

Penyebar Virus Kesyirikan

Pertanyaan : Beberapa orang berpendapat bahwa : para pegiat STIFIn terlihat begitu yakin dengan konsep STIFIn sehingga seolah-olah seperti mendahului takdir. Apa gak takut pegiat STIFIn menjadi penyebar virus kesyirikan?

Jawaban Farid Poniman

Konsep STIFIn pada dasarnya hanyalah sebuah pemodelan dalam mengembangkan SDM. Ilmu STIFIn sebagai bagian dari ilmu sosial ini bukan dogma kebenaran. Segala sesuatu yang diskemakan tetaplah menjadi probability bukanlah mutlak sebuah kepastian.

Ketika membahas variabel Mesin Kecerdasan, maka variabel yang lain dianggap tidak ada. Karena begitu semua variabel digunakan maka segala sesuatunya menjadi relatif

Namun pengalaman empiris para pegiat STIFIn menunjukkan bahwa variabel Mesin Kecerdasan telah berperan besar dalam kehidupan. Demikian juga dengan skema dan turunan konsepnya di berbagai bidang kehidupan betul-betul mempermudah analisa masalah. Bukan sebagai kebenaran mutlak. Apalagi ilmu yang dituhankan kebenarannya sehingga menjadi penyebar virus kesyirikan. Naudzubillahi mindzalik.

Baca Juga : Cara mengatasi skizofrenia ala STIFIn 

Karena itu kami perlu mengeluarkan disclaimer, agar tidak dikatakan penyebar virus kesyirikan bahwa:

  1. Konsep STIFIn bukan ramalan dan kepastian melainkan sekedar keberpeluangan, dan
  2. Apapun yang dirumuskan, didasarkan pada 1 variabel saja yaitu perbedaan genetik manusia dengan mengabaikan variabel-variabel yang lain.

Buat Apalagi Perlu STIFIn ?

Tidakkah sudah cukup dengan kitab suci (menurut Islam sudah cukup dengan Al Quran dan hadist), buat apalagi perlu STIFIn?

Jawaban Farid Poniman

Bagi mereka yang berpendapat seperti itu sebaiknya segera ambil ijazah-ijazahnya kemudian sobeklah. Mulai sekarang mereka jangan gunakan motor, mobil, kereta api, kapal, pesawat, gadget dan segala macam yang berhubungan teknologi, komputasi, atau bahasa selain Arab. Karena semua itu adalah hasil perkembangan ilmu pengetahuan, yang tidak akan tergali jika hanya berhenti pada kitab suci an-sich.

Demikian juga dengan Konsep STIFIn sebagai bagian dari ilmu pengetahuan yang diperlukan untuk mengenali jenis kecerdasan dan karakter manusia. Kalau ilmu STIFIn tidak diperlukan maka demikian juga dengan ilmu-ilmu yang lain. Bahkan matematika (sebagai dasar segala ilmu) yang bisa menghitung ilmu waris secara Islam seolah jadi tidak diperlukan juga. Naif.

Baca Juga : Sudut pandang psikologi dan STIFIn

Artikel Terkait

Tinggalkan Jejak

Share Aja Ya, Gak Usah Di Copas.