Menumbuhkan Kreativitas Anak

Jika bukan larangan yang bersumber dari ajaran Agama. Maka untuk menumbuhkan kreativitas anak, hindari mengatakan JANGAN kepada Anak. Terutama kepada Anak Intuiting karena akan mematikan potensi terbesarnya yaitu KREATIVITAS.

Anak Intuiting pada dasarnya hanya ingin memuaskan rasa penasarannya akan suatu PROSES. Dia menyukai PROSES nya. Ingin tahu PROSES nya.

Dia ingin tahu mengapa mainan mobil bisa bergerak dan dia membongkarnya. Mengapa paku di pukul pakai martil bisa masuk ke dalam kayu, dan dia ingin mencobanya. Wiper mobil bisa bergerak menghapus air hujan yang nempel dikaca mobil sehingga dia selalu ingin menekan tuas yang ada di kemudi mobil. Kenapa Donat Donita di goreng dahulu sebelum di makan, sehingga dia ikut menemani ibunya menggoreng.

Rasa Penasaran adalah Stimulus terbaik untuk memulai suatu aktifitas termasuk memulai belajar bagi Intuiting, itulah awal mula timbulnya HASRAT yang menjadi syarat persiapan bagi anak Intuiting untuk Belajar. Tanpa dimulai dengan HASRAT, sulit bagi Intuiting untuk memulai aktifitas atau belajar. Ketika rasa penasaran di Hambat, Hasratnya pun menjadi Lenyap. Mendorongnya untuk belajar seperti mendorong mobil tanpa roda.

PROSES dari sesuatu kejadian itulah yang menjadi fokusnya, menjadi Rasa Penasarannya, Dan akan ngotot mencari tahu, lalu ngotot ingin mencoba dan mengeksplorasi. Selama rasa penasarannya belum terpenuhi, maka ia akan selalu ingin mengulang dan mengulang sampai dia bosan sendiri, berhenti tatkala rasa penasarannya telah terpuaskan, tatkala dia sudah mengerti prosesnya.

Disinilah dibutuhkan kesabaran orang tua akan biaya yang dikeluarkan dari explorasi tersebut, ketika yang di eksplorasi sebuah mainan baru yang dibongkar habis tak lagi bisa di pasang. Ketika Intuiting dewasa mengeksplorasi peluang bisnis yang baru, kerugian dalam proses explorasi tersebut dianggap investasi biaya sekolah bisnis.

Daya Explorasi

Explorasi adalah kata kunci untuk menumbuhkan kreativitas anak Intuiting, KEBEBASAN melakukan sesuatu dengan caranya sendiri, tanpa ada batasan, dimana cukuplah aturan agama yang menjadi batasan kebebasannya. Kebebasan menjadi suatu hal yang berharga untuk menumbuhkan kreativitas anak Intuiting. Sehingga ketika kita mampu memberikan hal tersebut, senangnya luar biasa, seperti senangnya anak Sensing yang diberi uang ketika berprestasi, anak Thinking yang mendapatkan Piala Kemenangan Juara 1. Anak Feeling yang di puji lebay hingga kelangit. Anak Insting yang di beri peran untuk menolong.

Ketika rasa penasaran dan Ngotot ini terus terusan di Stop, dengan kata Jangan, maka akan muncul Rasa Gak Percaya Diri menentukan sikap ataupun pilihan, gak percaya diri ketika punya ide kreatif untuk di kerjakan, sehingga gak pernah punya hasil karya hingga usia tua. Padahal KARYA CIPTA adalah Harta Karunnya orang Intuiting. Yang menjadi sumber penghasilan dan penghidupannya selama di Dunia dan bekal untuk pulang ke Akhirat.

Baca Juga :

Memiliki Mimpi Yang Jelas

Mimpi yang jelas menjadi indikator kejelasan Hidup seorang Intuiting. Ia akan berfokus pada Ujung Akhir yang ingin dicapai. Prosesnya tak sesuai aturan normatif, anti mainstream terkadang sulit dipahami orang sekitarnya. Dianggap nyeleneh, aneh, tak mau ikut aturan. Ia hanya akan menyatakan : yang pentingkan hasilnya sama, sama sama SUKSES.

“Teserah mamalah aku mau jurusan apa, nanti aku yang milih mama gak mau”. Ungkapan ini sering saya dengar tatkala anak Intuiting melakukan Tes STIFIn dengan orang tuanya. Sadarailah wahai ibu, perkataan seperti itu indikator bahwa selama ini mamanya banyak larangan akan setiap pilihan anaknya.

Jadi bukan anak yang gak Pede atau gak pandai menentukan sikap dan pilihan saat mau milih Jurusan ataupun menetapkan pilihan apapun dalam hidupnya.

  1. Tapi seringkali orang tua yang sudah mematikan ke percayaan diri memilih si anak sejak dini dengan menghambat anak sebelum anak mencoba melakukannya.
  2. Seringkali orang tua sudah punya pilihan sendiri untuk anaknya dan ingin pilihannya disetujui anaknya.
  3. Ternyata Tes STIFIn yang dilakukan orang tua untuk mencari pembenaran dan memastikan akan pilihannya sendiri, bukan untuk memastikan apakah pilihan anaknya sudah benar.
  4. Orang tua lebih cenderung mendorong anak sesuai pilihannya, dengan berbagai alasan dan argumen. Padahal sudah jelas pilihan anaknya sangat sesuai dengan Mesin Kecerdasannya.
Ego Orang Tua

Ego orang tua adalah musuh nomor satu bagi setiap pilihan anak. Penyebab nomor satu dari salah asuhnya anak. Merasa sebagai orang tuanya, dan merasa udah banyak pengalaman hidup sehingga bisa menetapkan jalan hidup anaknya. Ingin anaknya mengikuti pola asuh yang nyaman baginya tapi tak nyaman untuk anaknya. Disinilah perlunya orang tua mengenal Konsep STIFIn Parenting.

Mungkin anda merasa senang sebagai orang tua, berhasil memaksakan pilihan anda pada anak dan anak menerimanya. Anda merasa pilihan anda lebih terjamin untuk masa depannya. Padahal tak ada yang bisa memastikan masa depan. Tapi, dalam perjalanan hidupnya Mesin Kecerdasannya akan tetap bekerja, 24 jam sehari, berusaha mengarahkannya untuk mengenal “Jalan Kembali” sesuai Mesin Kecerdasanya. Inilah yang membuat ketika dewasa menjadi orang yang labil tanpa punya kepastian pilihan masa depan. Menjadi orang rata rata tanpa mimpi besar, tanpa ada satupun ke ahlian khusus yang bisa dibanggakan. Karena dia berada pada posisi di tengah, antara mengikuti panggilan jiwa (hasrat/passionnya) dan paksaan orang tua.

Orang tua merasa anak belum cukup dewasa menentukan pilihannya. Pertanyaannya, kapan dia bisa belajar dewasa menentukan pilihan jika setiap kesempatan memilih itu datang, selalu di “pandu (bahasa halus dari dipaksa”) sesuai pilihan orang tuanya. Kapan dia bisa belajar menerima konsekwensi dari pilihannya jika selalu di “pandu” memilih. Yang ada ketika dia mentok, dia akan mengatakan “ini kan pilihan mama papa, bukan pilihan aku”. Trus orang tua pun bengong, tak mau disalahkan akhirnya memarahi anak.

Anak Itu Dewasa

Karena dia anak kita, kita cenderung merasa dia anak anak selamanya ketika dia menentukan pilihan. Tapi anehnya, kita menuntutnya menjadi dewasa ketika dia bersikap ke kanak kanakan di usianya yang udah melewati remaja.

2 hal yang menjadi hambatan untuk menumbuhkan kreativitas Anak dalam video ini yang bersumber dari orang tua :

1. Rasa MALAS saya sebagai orang tua, untuk MENEMANI, kebersamaan dalam mengeksplorasi keingin tahuannya. Akhirnya keluarlah kata JANGAN main pisau, karena ibu malas menemaninya mengeksplorasi apa gunanya pisau.

2. Jangan main Kotor dirumah, karena ibu ingin rumah tampak Rapi dan Perfeksionis. Rasa malas untuk merapikan dan membersihkannya kembali.

Tidak ada anak yang tidak berbakat. Yang ada anak yang mati bakatnya karena salah asuh. Setiap anak dewasa sesuai umurnya. Bahkan bisa lebih dewasa bersikap dibandingkan orang tuanya.

Apakah anak anda Intuiting ?
Cari tahu Mesin Kecerdasannya dengan Tes STIFIn.

Di Share Oleh ; Solver Ferri Azwar

Categories

tes-stifin