STIFIn Brain Official
Cabang STIFIn No. 2 Terbaik

Waktu pertama kali saya lihat screenshot itu, saya baca pelan-pelan… lalu saya senyum.
Ini teksnya:
“Saking gadungan nya Tes Sidik Jari yang kalian banggain itu, sampai jadi pembahasan kita di perkuliahan Kode Etik Psikologi kemarin 😂 Ingat ya Bapak Ibu, Sidik Jari itu bukan komponen/alat yang bisa dipakai buat Psikotes, kalau ada tukang kibul yang jualan tes sidik jari ini, sudah bisa dipastikan mereka itu penipu, sekalipun pakai embel2 Agama dan bawa2 Ustadz ternama 🙏”
Keras? Iya.
Lucu? Sedikit.
Perlu diluruskan? Banget 😄
Jadi mari kita bikin ini jadi obrolan waras.
Kita mulai dari yang enak dulu: bagian “sidik jari itu bukan komponen/alat psikotes” itu benar kalau dilihat dari kacamata psikologi akademik. Di kampus psikologi, yang disebut alat tes psikologi itu yang:
Promotor STIFIn? Ya memang bukan psikolog. Jadi wajar kalau teman-teman psikologi bilang, “itu bukan alat kita.” Kita gak perlu baper. Sampai sini belum ada masalah. Dia lagi ngomong dari wilayahnya.
Masalah muncul ketika kalimat ilmiah itu langsung dilompatin ke kalimat tuduhan:
“kalau ada tukang kibul yang jualan tes sidik jari ini, sudah bisa dipastikan mereka itu penipu…”
Nah ini yang kelewatan.
Dari “itu bukan alat kami” → jadi “berarti semua yang pakai penipu”.
Itu bukan lagi edukasi profesi, itu sudah generalizing people you don’t like 😅
Padahal banyak promotor STIFIn yang dari awal banget sudah bilang:
Kalau dari awal sudah jujur begitu, terus dibilang penipu… ya kurang adil dong.
Biar nggak berputar-putar, kita jelasin sekali.
Tes STIFIn dipakai untuk mengidentifikasi salah satu dari lima tipe dominansi otak dalam model STIFIn (Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, dan Insting). Dominansi ini kemudian dihubungkan dengan berbagai temuan tentang perilaku dan kepribadian, sehingga dalam komunitas STIFIn lahirlah satu pendekatan pemetaan diri yang kami sebut Konsep STIFIn.
Salah satu keunikan STIFIn adalah memasukkan Insting sebagai tipe yang berdiri sendiri. Unsur inilah yang membuat STIFIn terasa berbeda dari model pemetaan kepribadian yang lebih dulu populer.
Dari pemahaman itu, promotor STIFIn bisa menerjemahkan ke hal-hal praktis:
Jadi, STIFIn diposisikan terutama untuk pengenalan diri dan pengembangan diri agar orang lebih mudah berinteraksi, lebih pas dalam parenting, dan lebih tepat memilih peran/profesi. Ia bukan psikotes klinis, tapi pendekatan terapan yang dipakai di lapangan.
Tes STIFIn Bukan alat diagnostik psikologis. Tes STIFIn bukan alat untuk psikotes.
Jadi kalau dipakai di tempat yang benar, aman. Kalau dipakai di tempat yang salah (misal buat diagnosis penyakit psikologis), ya itu yang perlu ditegur. Tapi yang ditegur perilakunya, bukan semua orangnya dikatakan penipu.
Kayak perbedaan mazhab. Semua sama-sama mau ikut Al-Qur’an dan Sunnah, tapi cara ngambil hukumnya beda. Psikologi punya metodologi sendiri. STIFIn punya model sendiri.
Beda jalur bukan berarti satu halal satu haram. Yang penting: jangan mengaku mazhab lain. Orang yang Sholat Subuhnya pakai Qunut, jangan mengharamkan orang yang tidak pakai Qunut. 😁
Psikologi akademik itu kayak iOS: rapi, ketat, semua lewat satu “store”.
STIFIn itu kayak aplikasi di ekosistem lain: dipakai orang, bermanfaat, tapi memang nggak didaftarkan di store itu.
Kalau iOS bilang, “ini nggak ada di store kami,” ya jawabnya simpel: “iya, memang kami bukan dari store situ.”
Dokter spesialis: diagnosis penyakit.
Klinik perawatan: bantu orang bersih, kinclong, sehat ringan.
Keduanya sah, asal klinik nggak ngaku dokter.
STIFIn juga gitu: kita nggak ngaku psikolog, kita bantu orang tua dan individu yang butuh bahasa praktis, mudah dipahami untuk mengenali dirinya dan mengenali potensinya.
Di screenshot tadi disebut juga ‘sampai dibahas di perkuliahan Kode Etik Psikologi’. Itu bagus, artinya teman-teman psikologi serius menjaga standar profesinya.
Perlu diingat saja bahwa kode etik psikologi itu mengikat anggota profesi psikologi. Sementara promotor STIFIn bekerja di ranah pengembangan diri dan memiliki pedoman serta kode etiknya sendiri. Jadi tidak otomatis semua praktisi pemetaan potensi harus tunduk pada satu kode etik saja. Yang penting, kami pun menghormati batas profesi: tidak mengaku psikolog jika bukan psikolog, dan tidak menggunakan alat psikotes yang memang khusus untuk psikolog. Kalau dalam kode etik psikologi ada larangan bagi anggotanya untuk memakai Tes STIFIn, itu sepenuhnya hak mereka dan kami menghormati itu
Nah, ini biasanya bukan soal ilmu, tapi soal wilayah layanan yang bersinggungan. Psikologi bicara potensi → STIFIn juga bicara potensi. Psikologi bicara pengenalan karakter → STIFIn juga bicara pengenalan karakter. Jadi wajar kalau ada yang merasa, “eh ini area saya loh.”
Di dunia marketing itu biasa banget: kalau masuk ke kolam yang sama, pasti ada yang bersuara. Kita nggak usah baper. Kita cukup rapikan narasi.
Simple saja:
Kalau empat ini dipegang, tuduhan “penipu” jadi nggak nempel, karena definisi penipu itu: tahu beda, tapi tetap ngaku. Kita kan nggak begitu.
Jadi, dari screenshot tadi kita ambil saja bagian yang benar: sidik jari memang bukan alat psikotes. Itu clear.
Yang kita luruskan adalah kalimat lanjutannya: bukan berarti semua yang pakai tes sidik jari itu penipu.
Sama seperti semua yang bukan dokter bukan berarti dukun. Dunia ini nggak sesederhana itu.
Selama kita pakai STIFIn di tempat yang tepat, klaimnya jujur, dan kliennya merasa terbantu… ya berarti STIFIn itu punya fungsi sosial. Dan kadang, di dunia nyata, “terbantu” itu lebih penting daripada “menang debat.”.
Kebermanfaatan STIFIn sudah sangat dirasakan di lapangan. Karena ada area layanan yang bersinggungan dengan profesi lain, wajar kalau sesekali muncul perbedaan pandangan. Itu hal biasa dalam dunia praktik. 😉