Anak Adalah Bibit Unggul, Masalahnya Ada di Cara Menanam Materi ini diawali dengan satu analogi sederhana: anak adalah bibit unggul. Dalam Islam, manusia lahir dalam kondisi fitrah dan unggul dibanding ciptaan lainnya. Namun bibit unggul tidak otomatis tumbuh maksimal jika ditanam di tempat yang tidak sesuai. Persoalan utama dalam pendidikan bukan pada kualitas anak, tetapi pada ketidaksesuaian antara karakter genetik anak dan lingkungan belajarnya. Paradigma Dasar STIFIn dalam Belajar Setiap anak pasti unggul Bukan ada atau tidak ada potensi, tetapi di mana potensi itu berada. Anak tidak pernah kosong potensi, yang sering salah adalah perlakuannya. Bibit berbeda membutuhkan lingkungan berbeda Kurma unggul jika ditanam di padang pasir, kelapa unggul di pantai, tomat unggul di persawahan. Begitu pula anak, karakter genetik menentukan lingkungan belajar yang tepat. Lingkungan seharusnya menyesuaikan anak, bukan sebaliknya Genetik tidak bisa diubah, yang bisa diubah adalah pola asuh, metode belajar, cara komunikasi, dan sistem pendidikan. Lima Mesin Kecerdasan dalam STIFIn Manusia memiliki lima bagian otak utama yang semuanya aktif, tetapi hanya satu yang menjadi pemimpin. Mesin inilah yang memengaruhi cara belajar, cara berpikir, cara merespons, dan cara termotivasi. Sensing – Memori, pancaindra, dan kinestetik. Belajar melalui pengalaman nyata dan pengulangan. Thinking – Analisis dan logika. Belajar melalui […]




