1. Testimoni

Testimoni

Dwi Asih Rahmawati, [14.11.18 17:07]
Assalamualaikum teman-teman, perkenalkan saya Alumni WSLP Batch 49.

Nama : Dwi Asih Rahmawati
Bisa dipanggil : Wiwik Waluyo
Domisili/Kota : Medan
Profesi : IRT, penulis.
Personality Genetik : Fe

*STIFIn, Potongan Puzzle Terakhir Dalam Hidup Saya (maaf kalau ceritanya panjang, insyaAllah nggak mbleber-mbleber ^_^)

Tiga tahun lalu, ada seorang ibu-ibu yang datang ke TK anak kedua saya. Katanya dari STIFIn. Beliau menjelaskan secara garis besar lantas menawarkan tes bagi siapa saja yang menginginkan.

Sejujurnya saya kurang tertarik, apalagi mendengar dana Rp.350.000 yang harus dikeluarkan untuk membayar tes. Ditambah, saat itu, perekonomian domestik (keluarga) sedang tidak stabil. Saya harus berhemat. Namun, karena saya tak tega melihat si ibu promotor yang sepertinya sudah mengeluarkan effort lumayan besar untuk menjelaskan STIFIn sementara para wali murid tidak antusias, maka saya maju. Saya ingat betul, hanya ada empat wali murid termasuk saya yang tersentuh dengan ibu promotor dan akhirnya menyerahkan sepuluh jari tangan anaknya untuk dites.

“Anak ibu Thinking introvert. Anak yang pintar secara akademis. Calon ahli.”

Saya menganga. Anak saya pintar di kelas? Calon ahli? Nggak salah? Apa yang dijelaskan promotor saya tolak 80%. Anak saya tidak memiliki kecenderungan seperti yang disebutkan.

“Bisa jadi dia sama dengan ibu. Ibu kan penulis. Biasa mikir.”

Itu kata Kepala Sekolah yang coba urun analisa. Tapi saya tetap ngeyel dan hampir minta tes ulang hingga akhirnya promotor mengatakan, “Kalau ibu lihat anak ibu tidak seperti yang saya sebutkan, mungkin karena dia masih kecil. Kan dia masih TK. Coba deh, Bu, lihat nanti kalau dia sudah SD. Biasanya akan semakin nampak MKnya seiring usianya.”

Baiklah, saya menerima saran itu separuh hati. Separuh senang memiliki anak yang calon ahli, separuhnya lagi masih berantakan dan sibuk nanya diri sendiri, “Ahli? Ahli dari Hongkong?”
***
“Jadi, Ma, ayah ini Intuiting. Ntar ayah mau pasang plang, biar bisa praktek.”

Hah? Praktek? Praktek apaan?

“Ayah ini punya indra ke-enam, lho.”

Lha, punya indra keenam kek, kesepuluh kek, terus mau apa? Duh Allah, sudahlah ya ekonomi keluarga masih terpuruk, si kepala keluarga ini aneh-aneh bilang mau buka praktek.

Ini kejadian Agustus lalu. Asli saya kesaaal sekali. Bagaimana tidak? Sepanjang 12 tahun pernikahan, RT saya diuji dengan perkara yang ‘itu ke itu’. Tiga tahun belakangan saya niat move on. Rakus banget ngaji. Mengaji memang membuat banyak hal menjadi lebih baik. Ikhlas, rela, pasrah, hati jadi lapang. Tapi terkadang, kerap ada sesuatu yang kecil, serupa slilit yang itu tak bisa saya jabarkan apa namun seringkali mengganggu.

Suami yang datang dengan wacana ‘plang praktek’ setelah ia melakukan tes STIFIn (diam-diam), terus terang membuat saya gedeg. Macam dukun saja. Sebelum STIFIn beliau sudah sering mengatakan hal-hal yang aneh, ditambah STIFIn, Allahu akbar, saya perlu melipatgandakan jam menonton kajian agar kepala dan hati tetap pada frekwensinya. Agar saya tetap waras dengan ide-idenya yang embuh itu.

“Ayo, Ma. Mama tes STIFIn juga.”

Akhirnya beliau mengajak saya. Malas sekali saya menanggapinya. Untuk apalah saya tes? Sudah tua ini. Uang juga masih dihemat-hemat. Dan saya berdoa agar beliau berhenti meracau tentang STIFIn, tentang Intuiting, tentang indra keenam, tentang plang praktek. Tapi apalah daya. Bukannya diam, dia justru kerap menuduh saya sebagai si ‘raja tega’.

“Dasar Mama tuh Thinking.”

Lain waktu bila saya menanyakan konsep idenya, dia justru menyerang balik, “Dasar Mama tuh otak kiri!”

Gatal terus-menerus dilabel dengan ‘otak kiri’, ‘nggak ngertiin ide orang’ dlsb membuat saya mengalah, saya menerima tawaran tesnya. Di jalan menuju tempat tes, dalam hati saya bergumam, “Aku ini orang Feeling bukan Thinking.”
***
Saya memiliki banyak teman yang memercayakan keruwetan hidup mereka untuk dibagi dengan saya. Setiap kali ada yang datang dan berkata seperti ini; “Mbak Wik, aku lagi ngerasa jadi orang paling sedih di dunia. Tolong kasi aku nasehat atau kisah yang menguatkan. Maaf kalau aku datang ke M

Dwi Asih Rahmawati, [14.11.18 17:07]
bak, aku juga nggak ngerti kenapa tiba-tiba nge-chat Mbak.”

Allah… meleleh-leleh hati saya.

Hal-hal sepeti ini adalah karunia bagi saya. Ketika saya bergelut dengan tantangan hidup saya sendiri, Allah hadirkan orang-orang dengan tantangannya dan itu justru membuat saya kuat. Saya bahagia. Bahwa saya ada. Bahwa saya diperlukan oleh kehidupan ini. Bahwa saya memiliki peran.

Awalnya saya mati-matian menekan perasaan GR. Saya tak ingin besar kepala dengan merasa terlalu dianggap perlu oleh orang lain. Namun STIFIn membuat saya mengerti, membuat saya paham akan perasaan-perasaan yang mungkin aneh bagi orang lain. Bahwa saya seorang Feeling ekstrovert yang cenderung menjadi teman curhat paling hangat, yah, itu saya banget.

Akhirnya saya tes semua anak.

Dan hasil tes STIFIn serupa pintu gerbang yang terbuka dan memperlihatkan jawaban dari sejuta pertanyaan. Tentang mengapa anak sulung selalu meminta saya untuk membuat sesuatu agar bisa dia bawa ke sekolah dan dijual. Tentang kenapa dia begitu memperhatikan fisiknya, yang sebelumnya saya terheran-heran bagaimana anak SD bisa punya ide untuk memutihkan kulit wajah dengan jeruk nipis yang dicampur entah apa.

Juga tentang anak kedua –si anak Ti- yang pada akhirnya sering bertanya, “Kita ini mau pergi kemana, apa gunanya? Bukannya lebih baik di rumah saja bermain game?”

Lantas tentang mengapa anak ketiga yang baru empat tahun dan dia senang sekali menggombali saya. Mengatakan saya lebih cantik dari Nisa Sabyan. Mengatakan perasaaannya ada yang kurang lantas meminta saya berjongkok dan dia membisikkan, “Mama cantik, adek sayang Mama.”

Semua, semua seolah menemukan jawabannya setelah STIFIn. Juga tentang kenapa si manusia langit yang banyak ide aneh-aneh itu begitu menjengkelkannya. Akhirnya saya mengerti, saya paham, dan saya bisa menerima segala hal dengan sabar secara bulat.

Ilmu dari WSL 1 dan WSLP serupa cakrawala luas yang setiap sudutnya membuat saya takjub dan bersyukur. Sirkulasi segilima STIFIn membuat saya mudah memahami banyak hal. Mengapa saya dulunya sering merasa ingin mengambil alih nahkoda bahtera RT dari beliau si Intuiting yang keseringan ngetem di langit itu. Terjawab sudah.

Dan bersyukurnya, beliau yang dulunya jarang sekali mendukung saya, sekarang sungguh-sungguh mendukung saya.

“Kan, genetiknya I kudu mendukung F, Ma.”

Yah, walaupun rada-rada geli karena belum terbiasa, ya. Alhamdulillah, hidup saya lengkap setelah STIFIn. Bersabar secara bulat, bersyukur secara penuh. Ini hidup yang gue banget. STIFIn emang gue banget. InsyaAllah.

Terimakasih, STIFIn…

Categories

tes-stifin