Hati yang berpikir dalam membuat setiap keputusan

Apa yang dimaksud dengan hati yang berpikir? Seperti ayat qulubun ya’qiluuna biha (QS 22;46) dimaksudkan sebagai memiliki hati untuk memahami. Artinya memahami kebenaran bukan hanya melalui akal, hati juga ikut berpikir.

Apakah sama hasil akal berpikir dengan hati yang telah berpikir? Program kerjanya bisa berbeda namun ujungnya sama-sama kebenaran. Sebagaimana ketika Abubakar r.a. dengan keyakinannya ingin memerangi orang yang tidak bayar zakat, sedangkan Umar r.a. dengan akalnya merujuk kepada ayat yang tidak memerangi. Keduanya mengandung kebenaran. Akhirnya Umar r.a. memilih menundukkan akalnya untuk patuh pada keputusan pemimpin.

Baca juga : Kekeringan batin tanda turunnya iman

Memutuskan Pakai Hati

Dalam keseharian terdapat banyak perkara yang diputuskan pakai hati. Memilih pemimpin pakai hati. Oleh karena itu di Indonesia politik pencitraan dan politik identitas yang menonjol. Politik rasional belum mendapat tempat. Demikian juga memilih pasangan hidup kebanyakan pakai hati. Yang penting suka. Menikah karena cinta, sayang, atau suka lebih banyak dibanding atas kalkulasi ke depan.

Terhadap semua perkara, jika hati yang digunakan, maka gunakanlah hati yang berfikir agar keputusan yang berdasarkan keyakinan tidak salah. Pada akhirnya hati yang telah berfikir akan sama hasilnya dengan akal yang berpikir. Hanya saja proses menuju hati yang terlatih berfikir perlu pengalaman lebih panjang. Outputnya disebut wisdom (bijaksana). Jadi seberapa banyak anda bijak itulah hasil olah hati anda yang telah berfikir ■ 070519

Farid Poniman
Penemu STIFIn

Categories

tes-stifin