Home Personality Pseudoscience, Apakah Itu ?

Pseudoscience, Apakah Itu ?

by Ferri Azwar
Apa Itu Pseudoscience ?

Pseudoscience, Apakah Itu ?

Ilmu semu atau pseudosains (Inggris: pseudoscience) adalah sebuah pengetahuan, metodologi, keyakinan, atau praktik yang diklaim sebagai ilmiah tetapi tidak mengikuti metode ilmiah.

Ilmu semu mungkin kelihatan ilmiah, tetapi tidak memenuhi persyaratan metode ilmiah yang dapat diuji dan seringkali berbenturan dengan kesepakatan/konsensus ilmiah yang umum.

Jadi Kata Kuncinya :
Pseudosains : sebuah teori yang diklaim ilmiah tetapi tidak mengikuti metode ilmiah. Berarti kalau sudah mengikuti Metode Ilmiah. Maka Klaim tadi Menjadi Ilmiah. Tidak lagi menjadi Ilmu Semu. Begitukan ??

Yuk Kita Bahas Di Dapur.

Bagaimana Proses Sebuah Teori Itu Menjadi Ilmu.

Habis dapat daging kurban, emak Donita mencoba memasukkan beberapa kemiri ke dalam rebusan daging kurban (entah ilham dari mana dia dapatkan), tujuannya untuk melembutkan daging agar lembut saat di makan.

Apa yang dilakukan emak Donita ini ternyata berhasil membuat daging menjadi lembut ketika dimakan. Maka ceritalah si emak ini ke tetangganya, namanya Ibu Maya. Keluarlah klaim, teori dari Mulut Mamak Donita : Kemiri bisa melunakkan daging agar tidak alot dimakan. Jadi kalau bu maya mau masak daging kurban, rebus pakai kemiri dulu dagingnya.

Bu Maya pun mencobanya, dan berhasil. Bu Maya menceritakan kepada tetangganya lagi. Teori tadipun berkembang dikompleknya Bu Maya dan Bu Donita. Akhirnya berkembang juga via WLW (WA Lewat WA). Sehingga teori tadi menjadi sangat RELIABLE karena siapapun yang mencobanya hasilnya sama. Daging menjadi lembut. Itu disebut Reliable. Ketika sebuah teori terbukti konsisten di lapangan.

Mahasiswi Yang Ilmiah

Suatu ketika datang Mahasiswi Cantik sebut aja namanya Yani yang sedang kuliah S2 ke komplek itu, dan bertemu Bu Maya karena mendengar sebuah teori yang dipercaya oleh emak emak dikomplek

Bu Maya berkata kepada Yani : Dek kalau kau nanti nikah, mau masak daging buat lakikmu, campurkan beberapa kemiri kedalam rebusan dagingnya. Kemiri bisa melembutkan daging agar tidak alot dimakan.

Mendengar teori itu, Yani dengan kepintarannya langsung menjawab : pseudoscience itu bu.

Pseudosains apakah itu ? tanya si emak dengan wajah bingung yang masih dasteran ?

Klaim yang ibu katakan itu kalau belum terbukti secara ilmiah, belum melewati metode ilmiah. Belum ada yang meniliti dari 500 orang emak emak dikomplek berapa yang berhasil melembutkan daging dengan kemiri. Berapa jumlah data orang yang berhasil tersebut ?. Research tentang kemirinya juga belum ada, apa yang membuat kemiri bisa melembutkan daging. Jadi ibu jangan mudah percaya bu, teori semu itu, tidak ilmiah.

Nah, looh. si ibu dasteran bingung dan manyun.

Eh. Gue udah nyobain dan semua emak emak komplek udah nyobain, dan berhasil, loh bilang apa itu tadi.. sudo sado sedeng apalah itu. Kelewat pintar siih loh. Kata si emak maya.

Skripsi Merubah Pseudoscience Menjadi Ilmiah

Ternyata si Mahasiswi Cantik S2 ini tidak sendirian, disampingnya ada temannya juga Mahasiswi Cantik Plus Smart, sebut aja namanya Renny, sedang kuliah S1. Mendengar temannya berdebat dengan emak Maya. Ia pun mendapat inspirasi judul skripsi kuliahnya. Pengaruh Dan Dampak Kemiri Terhadap Struktur Bentuk Dan Kelembutan Daging Kurban.

Setelah 4 tahun kuliah. Pendek kata di lakukanlah penelitian oleh Renny, dengan mengambil sample emak emak komplek. Dan dibuktikan ternyata dari 500 emak emak ada 90% yang berhasil melembutkan daging dengan kemiri. 10% lagi belum berhasil.

Dalam riset ilmu sosial, hasil riset dengan persentasi 55% sampai 60% itu udah sangat bagus. Apa lagi kalau 90%. Wah senang banget si Renny. Karena dia telah berhasil membuktikan sebuah Teori yang tadinya pseudosains menjadi Sains, menjadi Ilmu Ilmiah tidak lagi Ilmu Semu. Maka, diapun mempertanggung jawabkan skripsinya, risetnya di depan para Profesornya, dan mempublish Riset Ilmiahnya di Online.

Telat Sadarnya

Suatu ketika, datanglah Yani Mahasiswi Cantik yang belum Smart ke komplek emak emak Donita. Menjumpai emak Donita yang sedang merebus Daging. Yani lalu ngomong ke emak Donita. Bu campurkan kemiri biar dagingnya lembut, begitu kata teman saya berdasarkan hasil risetnya, berdasarkan skripsinya.

Oalah..ndook. Emak emak dikomplek ini, itu taunya ya dari saya. Saya yang coba duluan dan berhasil. Lo kemana aja. Udah 5 tahun yang lalu emak pakai kemiri. Kok baru sadar sekarang. Kok baru mengakuinya sekarang. Dalam hati si Mahasiswi.. Coba ya . kalau aku percaya sejak dulu, tanpa menuggu riset ilmiah dari Mahasiswi S1 yang Cantik dan Smart itu.

Pseudoscience, Apakah Itu ?

Mudah mudahan. Emak emak sampai sini udah paham tentang bedanya pseudosains dan sains murni. Konsep STIFIn bukan lagi Pseudoscience, tapi sudah melewati riset dan penelitian selama 10 tahun yang dilakukan Founder STIFIn.

3 Golongan Orang

Sehingga dari cerita diatas.
Dalam kehidupan kita ini akan tetap ada 3 golongan orang dalam menanggapi dan merespon Teori Baru, sebuah ke Ilmuan Baru, golongan tersebut adalah :

  1. Golongan pertama, yang menerima teori masih berupa hipotesa, dan membuktikannya sendiri, ternyata Reliabilitas dalam kehidupannya. Maka ia meyakininya menjadi ilmu baru, sudut pandang baru. Dan mengaplikasikan dalam kehidupannya. Dia cuek aja dengan orang yang mengatakan itu pseudoscience. Karena pada dirinya sudah terbukti. Contoh pada orang sakit yang sembuh dengan pengobatan alternatif, yang belum di akui secara ilmiah pengobatannya. Belum ada data-data kesembuhannya. Belum ada data-datanya bukan berarti tidak ada yang sembuh kan ? Hanya tidak di kumpulkan data-datanya melalui Riset.
  2. Golongan kedua. yang menunggu sampai ada pengumuman nasional, sampai diterbitkan dalam jurnal-jurnal ilmiah, sampai ada risetnya, sampai lengkap data-datanya : bahwa Kemiri Bisa Melembutkan Daging, barulah dia mengaplikasikan dalam kehidupannya. Barulah ia percaya dan mengatakan itu bukan pseudoscience.
  3. Golongan ketiga, mereka yang nyinyirin orang orang yang berada di golongan satu dan dua. Emak emak cerdas jaman Now pastinya tidak masuk ke dalam golongan ke tiga.

Kesimpulan

Maka, intinya disebut pseudoscience itu jika tidak ada data-data riset pembuktiannya. Sehingga dianggap tidak valid  (Validitasnya tidak ada). Karena Validitas itu datangnya dari aktivitas riset mengumpulkan Data Data yang telah membuktikannya.

Maka, jika tidak ada orang yang mengumpulkan data-datanya yang disebut peneliti, bukan berarti tidak terbukti dilapangankan (Reliabilitas), bukan berarti tidak validkan ?

Silahkan anda putuskan, mau jadi golongan yang mana, golongan 1,2, atau 3 itu hak anda. Semoga bermanfaat tulisan tentang apa itu pseudoscience.

By Solver Verry – Monetisasi Genetik


Artikel Terkait

Tinggalkan Jejak

Share Aja Ya, Gak Usah Di Copas.
Brainity Parenting Promo