fbpx

Pendapat Ust Abu Rusydan tentang STIFIn yang beredar di youtube, tentunya membuat riak para pegiat STIFIn, berikut jawaban dari STIFIn tentang vidio tersebut.

  • Makin menyebar video tersebut maka fitnahan itu akan mengambil dosa-dosa founder dan para pegiat STIFIn.
  • Pendapat Ust Abu Rusydan tersebut di video sangat disayangkan karena menunjukkan bahwa beliau tidak paham dengan apa yang disampaikannya.
  • Menyebut nama STIFIn plus dengan Jung, Freud dll. berarti menggeneralisasikan bahwa semua ilmu psikologi juga perdukunan.
  • Ulama-ulama dan tokoh-tokoh yang sudah Tes STIFIn tidak mungkin mau dites jika konsep STIFIn itu perkahinan (perdukunan): Habib Rizieq Syihab, Buya Yahya, dll.
  • Konsep STIFIn sudah dipraktekkan di RQS (Rumah Quran STIFIn) sudah lebih dari 20 angkatan, bahwa menghafal 30 Juz akan lebih mudah menggunakan peta kecerdasan STIFIn.
  • Sebagai tambahan pengetahuan pelajari video berikut diatas. Yang menjelaskan bahwa sejak awal antara sidik jari dan sistem syaraf memang ‘satu bahasa’ berasal dari kode genetik yang sama. Sehingga wajar kalau sistem syaraf di otak dapat dibaca pada sidik jari.

Jawaban diatas disampaikan oleh : STIFIn Pusat.

————————————-

Selain itu, salah satu pegiat STIFIn senior Kang Monde Ariezta yang telah menuliskan ebook otak atik gathuk fenomena numerologi vs STIFIn, juga berpendapat di komentar youtube video tersebut, berikut ulasan pendapatnya kang Monde Ariezta. Subhanallah. Konten video ini sebaiknya mesti ditinjau ulang. Afwan sebelumnya ustadz, izinkan saya memberi komentar panjang.

Menurut saya pernyataan yang disampaikan di video ini mengenai STIFIn, Herbalis, Motivator, dsb yang dianggap sesat, ini perlu disampaikan dengan hati-hati. Menilai sesuatu yang “sudah populer dan diakui keilmiahannya” di masyarakat sebagai sesuatu yang dapat menyesatkan, perlu hati-hati karena harus disertai dengan ilmu yang mendalam mengenai sesuatu tersebut. Karena hanya akan membuat keresahan di masyarakat. Kecuali jika sudah jelas sesuatu itu memang menyesatkan, seperti misalnya Zodiac, Primbon, dan Judi.

Jadi berbicara, berfatwa, mestinya berdasarkan ilmu. Di mana sebelumnya, para ulama besar pun mencontohkan dimulai dengan cara tabayyun dulu, kemudian pelajari/buktikan ilmu tersebut, kemudian cari di Al-Qur’an dan Hadits apakah ada dalil yang memperkuat ataupun melarang? Barulah setelah itu silakan sampaikan ke masyarakat apa adanya hasil kerja panjang tersebut (dari mulai tabayyun hingga mengkorespondesikan dengan Al-Qur’an & Hadits), apakah ilmu tersebut layak digunakan atau tidak? Apakah tergolong New Age Movement atau tidak?

Kenapa saya mengatakan demikian? Karena saya perhatikan, saya putar bolak balik video ini, ustadz menyampaikan tentang apa yang dibahas tidak dengan ilmu yang cukup. STIFIn misalnya, saya pernah belajar mendalami ilmu STIFIn, saya tahu betul bagaimana itu STIFIn, cara menjelaskannya, dll. Dan afwan saya perhatikan, cara ustadz menyampaikan ilmu STIFIn itu keliru. Bukan seperti itu STIFIn. Apa dasarnya STIFIn ini ramalan? Bukankah ilmu STIFIn adalah ilmu peluang? Kalau STIFIn ramalan, maka ilmu-ilmu lain yang cara kerjanya seperti STIFIn adalah ramalan? Ilmu psikologi, matematika, fisika, biologi, kimia, ilmu kedokteran yang bisa menentukan suatu penyakit hanya lewat ilmu peluang yang disebut ilmu diagnosa yang selama ini kita pelajari sedari kecil, itu ramalan? Lalu apa kabar shalat kita yg dilakukan puluhan tahun sedari kecil? Apakah tidak diterima?

Ini menunjukkan bahwa sepertinya ustadz menilai STIFIn tidak dengan ilmu yang cukup tentangnya. Mungkin hanya baca sebagian tentangnya dan kemudian menafsirkannya sesuai dengan ilmu yang diperoleh sebagian tersebut. Ini bahaya, sebab kaitannya dengan urusan sesat dan ibadah. Perlu hati-hati menyampaikan hal seperti ini karena kalau tidak disertai dengan tabayyun dan ilmu yang cukup, bisa jadi fitnah, dan akan blunder jika ternyata terbukti bukan ilmu sesat.

Kemudian ustadz pun tidak menyampaikan dengan jelas dan gamblang, korelasi STIFIn dengan perdukunan. Mestinya dijelaskan, apa sebabnya STIFIn dianggap perdukunan? Gimana prosesnya? gimana teknisnya sehingga kemudian disimpulkan perdukunan? Ini yang bahaya, karena masyarakat akan terbodohi dengan penyampaian yang tidak disampaikan dengan jelas. Tentu saja masyarakat akan percaya-percaya saja apa kata seorang ustadz. Kemudian masyarakat akan mengatakan ke orang-orang sekitarnya bahwa STIFIn sesat tanpa tahu bagaimana korelasinya. Mereka akan menyampaikan sesuatu tanpa ilmunya. Jika ternyata keliru, maka merekalah yang akan jadi korban memperoleh dosa menyebar fitnah.

Jika hanya karena STIFIn menggunakan landasan teori C.G. Jung yang sesat dan kafir yang juga murid dari Sigmund Freud yang sesat dan kafir, bukan berarti otomatis STIFIn sesat. Toh banyak sekali ilmu-ilmu dari orang-orang sesat dan kafir namun nyatanya keilmuannya terbukti dan bermanfaat sampai saat ini, contohnya di kedokteran, ilmu bisnis, teknologi, psikologi, pendidikan, dll. Berarti kita semua yang juga pengguna ilmu-ilmu tersebut sudah tersesat jauh dong?

Kemudian semakin akhir video, semakin membuat saya beristighfar. Hanya karena batu yang mampu memancarkan gelombang frekuensi tertentu yang dapat digunakan terapi, atau pengobatan herbal yang kemudian memungkinkan orang-orang tergantung padanya, maka kemudian semua dianggap sesat. Mestinya yang disampaikan adalah tentang sisi niatnya, niat menggunakan ilmu itu semua agar tetap meyakini bahwa yang menyembuhkan itu adalah Allah, bukan batu atau obat herbal. Itu biasanya yang disampaikan para ustadz. Bukannya kemudian menilai sesat wasilah kesembuhannya tersebut.

Bagaimana dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menganjurkan kita tahnik, habbatussauda, madu, pohon bidara, kurma, bekam, dll sebagai wasilah penyembuhan? Itu kan herbal semua? Para pelakunya disebut herbalis. Apakah mereka dan kita sesat selama ini? Terakhir, omong-omong bicara soal ilmu berbau ramalan, bagaimana dengan pernyataan ustadz bahwa jika ada dukun yang melewati “kahin line” yang ustadz akan pasang di rumah bisa sampai membuat dukun kehilangan kemampuannya? Apakah bisa kahin line membuat seseorang kehilangan kemampuan? Apakah kahin line nya sakti? Apakah kita harus mempercayai dan meyakini itu? Bukankah seperti itulah ramalan? Bukankah dengan mempercayai kesaktian kahin line akan membuat kita tergolong sesat?

Maasyaa Allah. Afwan ustadz, mari kita sama-sama menyampaikan sesuatu dengan ilmu dan kebijaksanaan serta minta Allah bimbing kita saat menyampaikan sesuatu. Masyarakat punya hak untuk memperoleh ilmu yang benar yang bermanfaat untuk kehidupan mereka dan jadi wasilah mendekatkan diri kepada Rabbnya, bukan dari hasil menafsirkan secara tidak utuh.

Buat Anda yg melihat video ini, silakan simak Video dari Ust. Reza Syarif yang menjelaskan STIFIn dengan jelas dan gamblang, dengan disertai dalil dan korelasi yang baik. Saya tidak meragukan ilmu agama ustadz, tapi bukan berarti saya tidak meragukan pemahaman ustadz akan keilmuan lainnya. Wallahu’alam bishshawab.

https://stifinbrain.com
Do you like STIFIn Brain's articles? Follow on social!
Klik Untuk Daftar
Comments to: Pendapat Ust Abu Rusydan Terhadap STIFIn, Ini Jawaban Dari STIFIn
error: Sukses Mulia, Di Mulai Dari Menghargai Karya. No Copas, But Share.

Login

Hai.. STIFIners
Mau Tahu Tentang STIFIn ? Punya Pengalaman Dengan Konsep STIFIn ? Ingin Berbagi Cerita Tentang STIFIn ? Semuanya Bisa Di Sini
Menjadi Pembaca & Penulis
Daftar, Posting & Bagikan Ceritamu Kepada Dunia Tentang STIFIn
Buruan Daftar