Mengatasi Konflik Pasangan Feeling dan Thinking :

  • Suami bawa tamu kerumah banyak tanpa informasi dan diketahui istri, jadinya istri musti masak untuk menyediakan kepada tamu. Menjadi konflik awal pernikahan, karena suami Feeling yang suka bersosialisasi sementara istri Thinking yang asosial yang tidak punya banyak teman.
  • Istri Thinking menulis surat kepada suamu sebagai bentuk curhatnya kepada suami
  • Istri inginnya di beri informasi dulu jika ingin pulang kerja lebih awal
  • Istri Thinking tertulis dengan tujuan ada bukti dan bisa lebih lama diingat.
  • Thinking fokus pada bahasa Tulisan, sementara Feeling malas baca. Maka sulusinya adalah dengan menggunakan Voice Note, ada nada ada suara yang mana orang Feeling menjadi lebih mudah paham.
  • Yang disukai istri Thinking, jika suami lebih menolong perannya istri, suka membantu istri, suami lebih memberikan kepercayaan kepada sang istri.
  • Istri Thinking memfasilitasi suami Feeling dengan kesepakatan dan pembatasan membawa tamu. Daripada suami yang keluar rumah, jadi istri yang memberi ruang kepada suami untuk membawa teman-temannya ke rumah sesuai dengan aturan dan jadwal dari Istri yang Thinking.
  • Bahasa cintanya orang Feeling ingin di layani istrinya yang Thinking. Sementara orang Thinking menganggap sebagai Kerja Sama ketika suami melayani dirinya sendiri saat istri sedang tidak mampu karena sakit, atau sedang sibuk hal lainnya.
  • Mengatasi Konflik Pasangan ketika suami sedang berusaha mengerjakan bisnis MLM pergi setelah pulang kerja dan pulangnya pagi. Ketika suami mengajak istrinya untuk pergi bersama, akhirnya istri menyadari dan merasa rugi ikut karena cuma ngumpul dan ngobrol ngobrol saja.
  • Suami Feeling pernah ketipu orang dan akhirnya minjam ke bank untuk membayar hutang tersebut. Thinking adalah tipe “bangkit dalam kubur” suka mengingat kisah lama sebagai “rem” agar tidak terjadi kejadian yang sama berulang.

Categories

tes-stifin